Mengenal 'Sindrom Ratu Lebah' Perilaku Kritis Terhadap Sesama Wanita
Ilustrasi 'kritis sesama wanita' (Pexels/Pixabay)
Life

Mengenal 'Sindrom Ratu Lebah' Perilaku Kritis Terhadap Sesama Wanita

Gagal mendukung wanita lain

Bela
Rabu, 06 November 2019 14:50 WIB 06 November 2019, 14:50 WIB

INDOZONE.ID - Women support another women, oh really?  

Apakah menurutmu di zaman serba modern sekarang wanita lebih ramah terhadap wanita lainnya? Coba lihat sesekali bagaimana wanita berkomunikasi satu sama lain, bagaimana mereka 'membuka forum diskusi' untuk menjatuhkan citra wanita lainnya. 

Bukan hanya itu, saat berada di transportasi publik, sekalipun sudah disediakan bilik khusus perempuan, mereka bisa saling sikut atau mendorong satu sama lain, lho. Kenapa bisa berperilaku seperti itu ya? 

Berawal dari tahun 1973, tiga peneliti G. L. Staines, T. E. Jayaratne dan C. Travis mendefinisikan 'sindrom ratu lebah' sebagai jejak perilaku seorang wanita dalam posisi kekuasaan atau otoritas yang memperlakukan atau memandang bawahannya dengan lebih kritis, terutama jika mereka adalah wanita, melansir dari Times of India

Teori yang dikembangkan oleh ketiga ilmuwan ini menyatakan bahwa wanita di posisi senior dalam organisasi tidak hanya gagal untuk mendukung wanita lain tetapi bahkan memiliki dampak negatif pada karier mereka.

Sejak teori ini muncul, banyak perdebatan dan penelitian yang membagi dunia menjadi dua kubu, yang satu yang mengatakan setuju adanya 'sindrom ratu lebah,' sementara yang lainnya menyangkal keberadaan teori ini. 

Sementara itu, sebuah studi lain yang dilakukan University of Arizona menyatakan wanita melaporkan ketidaksopanan yang lebih tinggi pada wanita lain daripada pria. 

Studi ini juga menjelaskan bahwa wanita yang menentang norma gender atau lebih dominan dan tegas di tempat kerja lebih mungkin menjadi target perempuan lainnya. 

Para peneliti ini menyimpulkan bahwa wanita lebih tidak beradab satu sama lain saat berada di tempat kerja. 

Penelitian ini juga menjawab pertanyaan terkait dengan rekan kerja mereka yang telah membuat komentar menghina dan mengabaikan mereka di depan orang lain dengan maksud untuk merendahkan. 

Pada akhir percobaan, para peneliti menemukan bahwa ada lebih banyak perilaku tidak sopan yang dipicu oleh sesama perempuan di lingkungan kerja. 

Selama penelitian, para peneliti menemukan bahwa organisasi menghadapi risiko lebih besar akibat kehilangan karyawan wanita yang menjadi korban dari karyawan senior yang mengidap 'sindrom ratu lebah.' 

Karyawan seperti ini yang sering kali mengalami perlakuan buruk di tempat kerja mengakibatkan seringnya mengeluhkan kurang puas terhadap pekerjaan akibat perlakuan tidak menyenangkan yang diterima di kantor. 

Tetapi, di zaman serba modern ini banyak orang menyadari bahwa tidak semua perilaku ini masih exist.

Ann Francke, salah satu bos wanita papan atas Inggris, dalam buku terbarunya "Create Gender Balanced Workplace" menyatakan telah menawarkan solusi untuk melawan stereotip gender dan ketidakseimbangan di tempat kerja dan memperkenalkan strategi untuk membawa perubahan positif dalam organisasi. 

Menurutnya, gagasan bahwa perempuan dalam posisi berwenang tidak sopan terhadap rekannya yang lebih muda adalah stereotip 'ketinggalan zaman.' 

Artikel Menarik Lainnya: 

TAG
Bela
Bela

Bela

Editor
ARTIKEL LAINNYA
LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU