The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Heboh Pernikahan Sesama Bocah SMP di Wajo, Direstui Keluarga karena Alasan Hindari Zina
Pasangan bocah SMP yang menikah di Wajo, Sulsel. (Dokumen pribadi)
Life

Heboh Pernikahan Sesama Bocah SMP di Wajo, Direstui Keluarga karena Alasan Hindari Zina

Anak Ketua MUI Kabupaten Buru Selatan

Rabu, 25 Mei 2022 12:31 WIB 25 Mei 2022, 12:31 WIB

INDOZONE.ID - Pernikahan pasangan bocah SMP di Pallae, Kelurahan Wiring Palannae, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, pada Minggu (22/5/2022), menyita perhatian khalayak luas. 

Sejoli bocah itu diketahui berinisial NSS (16 tahun) dan MF (15 tahun). Mereka berdua sama-sama masih duduk di bangku SMP. Mempelai perempuan kelas 3, sementara mempelai laki-laki kelas 2.

Belakangan diketahui, NSS dan MF telah berpacaran sejak setahun terakhir.

Lantaran takut anaknya berzina, orang tua mereka pun sepakat untuk menikahkan mereka.

"Mereka memang kami jodohkan, apalagi mereka sudah berpacaran sejak kelas 2 SMP. Kami nikahkan cepat karena takutnya mereka zina," kata Rustan Efendi kepada Tim IDZ Creators pada Selasa (24/5/2022). 

Pasangan bocah SMP yang menikah di Wajo, Sulsel. (Dokumen pribadi)
Pasangan bocah SMP yang menikah di Wajo, Sulsel. (Dokumen pribadi)

Alasan lain, kata salah satu mempelai, adalah karena orang tuanya sudah sakit-sakitan dan ingin melihat anaknya menikah sebelum meninggal dunia.

"Orang tua kami mau melihat anaknya menikah sebelum mereka meninggal dunia," ujarnya.

Pihak kelurahan sebenarnya menolak memberikan surat pengantar nikah karena keduanya masih di bawah umur.

Namun, pihak keluarga tetap ngotot menikahkan kedua bocah itu meski secara siri, dengan mahar seperangkat alat salat serta uang tunai senilai Rp35 juta.

"Pemerintah kelurahan dulu tolak waktu datang minta pengantar karena umurnya masih 15 tahun. Karena kita dulu ikut sosialisasi dan aturannya anak di bawah umur tidak bisa diberi pengantar," ujar Patimah, Sekretaris Kelurahan Wiring Palannae, Kabupaten Wajo. 

Kata Kemenko PMK

Pasangan bocah SMP yang menikah di Wajo, Sulsel. (Dokumen pribadi)
Pasangan bocah SMP yang menikah di Wajo, Sulsel. (Dokumen pribadi)

Terpisah, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Pemuda Kemenko PMK Femmy Eka Kartika Putri menyesalkan pernikahan itu.

Apalagi diketahui, salah satu bocah yang menikah itu adalah anak Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Buru Selatan, Maluku.

Femmy mengklaim bahwa pemerintah telah berusaha sekuat tenaga untuk mencegah terjadinya perkawinan anak. Hal tersebut dilakukan untuk melindungi hak-hak anak dan melindungi masa depannya.

"Kemenko PMK dan Kementerian/Lembaga, mitra pembangunan telah melakukan upaya-upaya pencegahan perkawinan anak dengan berbagai program dan kegiatan," kata Femmy  dalam siaran persnya, Kamis (14/10/2021).

Selain itu, negara juga berperan, melalui beberapa regulasi, antara lain Undang-Undang No 16 Tahun 2019 sebagai Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

"Dalam regulasi tersebut dijelaskan perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 tahun," tutur Femmy.

Dampak Psikologis

Pasangan bocah SMP yang menikah di Wajo, Sulsel. (Dokumen pribadi)
Pasangan bocah SMP yang menikah di Wajo, Sulsel. (Dokumen pribadi)

Psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi menyebut menikah muda sangat bisa memicu seseorang untuk mengalami depresi.

Hal ini dikarenakan pasangan muda cenderung belum mampu mengontrol emosinya.

“Kalau menikah muda, kedua pihak tentu belum memiliki kematangan emosi yang baik. Masing-masing bisa saja belum memahami pasangannya satu sama lain,” katanya, dikutip dari klikdokter.

Ketika istri dan suami masih mementingkan urusan pribadi, hal ini berpotensi menimbulkan konflik rumah tangga, bahkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Menikah di bawah usia 20 tahun bisa dikatakan menikah muda. Ketika memutuskan untuk menikah pada usia tersebut, mereka sebenarnya masih berada di tahap akhir dalam pencarian identitas jati diri,” kata Ikhsan.

Selain itu, ketika suami-istri telah tinggal bersama, pasti ada saja kebiasaan atau budaya yang berbeda dari masing-masing pihak. Hal ini juga berpotensi menimbulkan masalah, apalagi kalau salah satu dari pasangan sangat dominan

“Di usia muda umumnya, masing-masing orang akan egois atau self-centered. Jadi, tidak sedikit masalah kecil yang mungkin menjadi besar ketika seseorang berada di tahap itu,” ujarnya.

Artikel Menarik Lainnya:

Viral di TikTok! Pernikahan Bocah di Wajo, Ternyata Maharnya Bikin Melongo!

Soal Pernikahan Siswi SMP di Buru Selatan, Kemeko PMK Sebut Sudah Lakukan Upaya Pencegahan

Ditolak Kelurahan, Bocah SMP Tetap Menikah karena Dijodohkan, Bagaimana Dampak Psikisnya?


TAG
Abul Muamar
Abul Muamar

Abul Muamar

Editor
JOIN US
JOIN US