The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Tangis Balita 4,5 Tahun Tangannya Putus Digigit Komodo, Anggota DPR Ingatkan Soal Habitat
Kiri: Komodo di Taman Nasional Komodo. ANTARA/Wahyu Putro A/spt; Kanan: F, bocah yang digigit komodo. (kanan)
News

Tangis Balita 4,5 Tahun Tangannya Putus Digigit Komodo, Anggota DPR Ingatkan Soal Habitat

Minggu, 17 Januari 2021 17:43 WIB 17 Januari 2021, 17:43 WIB

INDOZONE.ID - F, seorang balita berumur 4,5 tahun berinisial F, menangis meraung-raung menahan rasa sakit akibat pergelangan tangan kirinya putus usai digigit seekor komodo yang berkeliaran di pemukiman warga di Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (16/1/2021).

Pada fotonya yang beredar di media sosial, bocah berambut ikal itu tampak sesenggukan saat digendong orang tuanya di Puskesmas Pembantu Desa Komodo.

Menurut kabar terakhir, bocah malang itu dibawa ke Labuan Bajo dan dirawat di RS Siloam Labuan Bajo. Pergelangan tangan kirinya tak terselamatkan lantaran dibawa kabur oleh komodo yang menggigitnya.

"Sempat ada perlawanan antara ibu dan Komodo itu. Setelah akhirnya karena banyak warga yang mendengar teriakan ibu dan anak itu akhirnya pada datang," terang Sekretaris Desa Komodo, Ismail.

Masih menurut Ismail, F awalnya sedang bermain tak jauh dari ibunya sebab saat itu ayahnya tak sedang berada di rumah. Ia sedang bermain dengan seutas tali yang di ujung tali diikat dengan botol plastik.

Tiba-tiba komodo yang memang sudah berada di bawah rumah itu menggigit botol tersebut dan menariknya sehingga anak tersebut kemudian terjatuh.

Setelah jatuh, komodo tersebut langsung menyerang bocah itu dan menggigit pergelangan tangannya sehingga terputus. Tak hanya bagian tangan Komodo yang menurutnya berukuran sedang itu juga menggigit sebagian wajah dari bocah balita tersebut.

"Iya benar masih dirawat di RS Siloam, pergelangan tangannya putus dan ada beberapa bagian wajahnya juga yang digigit," katanya.

Terkait bagaimana kondisi komodo itu, kata Ismail saat itu sempat dipukul oleh warga setempat namun akhirnya melarikan diri.

Pihaknya berharap agar Balai Taman Nasional (TN) Komodo bisa segera membuat pagar pembatas antara kampung Komodo dengan kawasan tempat tinggal Komodo karena banyak komodo berkeliaran di desa itu.

"Konflik antarwarga dengan komodo bukan baru kali ini sehingga kami minta BTN Komodo harus bertanggungjawab atas kejadian ini," keluh Ismail.

Seperti diketahui, kehidupan komodo di Taman Nasional Komodo semakin terancam akibat ambisi pemerintah membangun Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Super Prioritas Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT), atau lebih dikenal dengan julukan satire 'Jurassic Park'.

Pada November 2020 lalu, anggota Komisi V DPR RI Johan Rosihan mengingatkan agar kepentingan pariwisata jangan sampai mengabaikan habitat komodo di NTT.

Johan mengemukakan hal tersebut dalam rangka merespons rencana pembangunan sarana dan prasarana wisata alam Loh Buaya di Pulau Rinca, Provinsi NTT.

Johan meminta jaminan kepada seluruh pihak terkait bahwa pembangunan tersebut tidak merusak habitat Komodo.

"Pemerintah harus menyadari bahwa lahan pembangunan tersebut merupakan daerah konservasi sehingga berpotensi mengganggu kehidupan satwa," kata Johan.

Beberapa waktu lalu, beredar di media sosial sebuah foto yang menampilkan seekor komodo tengah berjalan di dekat sebuah truk pengangkut material proyek. Satwa dilindungi itu terlihat seolah sedang menghadang truk tersebut.

Foto tersebut diunggah akun Instagram @gregoriusafioma. Gregorius menyebut bahwa pemandangan tersebut benar-benar “gila” dan tak pernah dibayangkan sebelumnya bisa terjadi.

"Truk masuk ke dalam kawasan konservasi yang dijaga ketat selama puluhan tahun dan telah secara sistematik meminggirkan masyarakat dari akses terhadap pembangunan yg layak demi konservasi," tulisnya dalam unggahan itu.

Gregorius menduga bahwa truk tersebut adalah truk pertama yang masuk ke dalam kawasan konservasi komodo sejak komodo menjadi perhatian dunia tahun 1912.

"Dengan santuy, orang menyaksikan dari atas truk, tanpa mereka menyadari bahwa kawasan ini telah melewati sejarah yang sangat panjang dan melibatkan narasi-narasi pengorbanan dari berbagai pihak," katanya.

Menurut Gregorius, semua cara untuk menentang rencana ini sudah dilakukan secara terhomat, baik di jalanan maupun di kantor-kantor pemerintahan.

"Namun nyatanya memang tidak didengarkan," katanya.

Gregorius menulis, pembangunan proyek tersebut berawal dari kunjungan Presiden Jokowi pada Juli 2019. Dalam kunjungan itu, tulisnya, Jokowi mengumumkan rencana pembangunan tersebut. 

"KLHK yang menjadi pengelolah TNK, hanya nurut saja kemauan presiden. ? Padahal tahun sebelumnya, beramai-ramai orang membongkar pengaplingan PT. Segara Komodo Lestari, milik David Makes (adiknya, Josua Makes, pemilik plataran komodo) di kawasan yang sama dan KLHK berkomitmen meninjau kembali ijin pembangunan dalam kawasan," katanya.

Ia pun skeptis apakah pembangunan tersebut benar-benar suatu keputusan yang terencana atau rencana yang impulsif karena momentum saja. 

"Jokowi sendiri mungkin tak banyak paham tentang konservasi komodo jika hanya mengandalkan satu-dua kali kunjungan saja," katanya.

"Dalam kunjungan kedua itu, kita mudah melihat siapa yang memfasilitasi Jokowi saat itu (bdk, kapal, tempat nginap, dan orang-orang yang mendampingi). ? Presiden yang terobsesi dengan investasi apalagi yg menjual “kesejahteraan” masyarakat, tentu sangat antusias dg rencana itu. Padahal konsekuensinya banyak," lanjutnya.

"Melihat foto ini, dalih zona pemanfaatan hanyalah alibi semata. tahapan proses pembangunan ini saja, sdh jelas mengabaikan prinsip konservasi, apalagi bangunan dan model pengelolaan," Gregorius menambahkan.

Adapun salah satu kawasan yang akan terkena dampak KSPN Super Prioritas Labuan Bajo adalah Pulau Rinca di Kabupaten Manggarai Barat, tempat foto tersebut dijepret.

Selain foto tersebut, Gregorius juga membagikan video yang menampilkan truk berjalan di mana seekor komodo berada di tepi tebing.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Abul Muamar
Abul Muamar

Abul Muamar

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US