The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Komisi IX Sayangkan Masih Adanya 3 Ribu Pasien Positif Berkeliaran di Tempat Publik
Ilustrasi orang belanja di mal saat pandemi. (INDOZONE).
News

Komisi IX Sayangkan Masih Adanya 3 Ribu Pasien Positif Berkeliaran di Tempat Publik

Pertanyakan soal scan barcode.

Jumat, 17 September 2021 08:31 WIB 17 September 2021, 08:31 WIB

INDOZONE.ID - Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah agar menindaklanjuti  data 3.830 orang berstatus hitam yang berkeliaran di mal sebagaimana yang diperoleh dari PeduliLindungi.

Ia merasa heran bagaimana bisa orang positif Covid-19 atau dengan status hitam bisa masuk ke mal melalui aplikasi PeduliLindungi ini.

“Bagaimana mungkin orang tersebut bisa berkeliaran di mal? Bukankah  saat scan barcode dan  status mereka berwarna hitam seharusnya dilarang masuk  oleh petugas?” ucap Netty, Jumat (17/9/2021).

Netty berkata penyampaian data ribuan  orang berstatus hitam berkeliaran di mal menunjukkan kelemahan sistem protokol kesehatan di tempat publik dan juga menjadi kritik terhadap sistem aplikasi.

"Tidak semua penjaga pintu memerhatikan dengan seksama hasil scanning barcode. Bahkan ada mal yang pengunjungnya  bisa masuk tanpa melewati deteksi barcode.  Ini seperti formalitas saja, bukan benar-benar untuk menyaring pengunjung yang sehat dan tidak," jelasnya.

Kemudian dia memandang Kelemahan sistem PeduliLindungi adalah tidak dapat membedakan  status hitam  pengunjung, apakah karena positif Covid-19  atau karena menjadi kontak erat.

Baca Juga: UNICEF Mendesak Sekolah di Negara Pandemi Segera Dibuka Kembali

"Status pengunjung  bisa otomatis berubah menjadi hitam saat sudah berada di dalam mal  ketika  terdeteksi menjadi kontak erat. Jadi perubahan status bukan karena tes swab antigen atau swab PCR tapi lebih pada otomatisasi aplikasi," tutur Netty

"Nah, bagaimana tindak lanjut pemerintah atas pengunjung berstatus hitam  yang secara prosedur medis seharusnya dibantu untuk melakukan isolasi terpusat (isoter) di pusat karantina atau isolasi mandiri?" tambahnya.

Dia pun mempertanyakan apakah Kementerian Kesehatan telah menyiapkan  infrastruktur dan  nakes di tempat publik seperti mal agar mereka yang berstatus hitam segera mendapat perawatan.

Selain itu, kata Netty, aplikasi PeduliLindungi juga   tidak dapat mendeteksi status  hijau pengunjung  dengan akurat.

“Status seseorang akan terus hijau selama ia sudah divaksin,   tidak melakukan tes Covid-19 dan tidak menjadi  kontak erat. Dia akan  bebas masuk ke dalam mal maupun fasilitas publik lainnya. Padahal bisa saja dia sudah terpapar namun tidak diketahui, karena tanpa gejala dan tidak dilakukan tes. Bukankah  tidak ada jaminan orang yang sudah vaksin tidak akan terinfeksi,”  urai Netty.

Dengan faktor  kelengahan  penjaga mal,  tidak tersedianya infrastruktur medis,  dan kurang akuratnya aplikasi untuk mendeteksi, kata Netty,  perlu dipertimbangkan penggunaan tes swab antigen atau swab PCR sebagai persyaratan masuk area publik, bukan sekadar status hijau aplikasi.

"Tidak disyaratkannya tes swab antigen maupun swab PCR untuk memasuki mal juga berdampak pada kurang akuratnya pendeteksian kesehatan masyarakat," imbau Netty.

Politisi PKS juga meminta agar kebijakan yang membolehkan pembukaan bioskop di PPKM level 3 dan 2 diikuti dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

“Sebelum diterapkan harus diujicoba dulu  penerapan prokes-nya. Apalagi ini kegiatan yang membuat puluhan orang berada dalam dalam satu ruangan yang tertutup. Jika memang diperlukan, masuk bioskop juga harus pakai swab antigen” katanya.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fahmy Fotaleno
M Fadli
Harits Tryan Akhmad
JOIN US
JOIN US