The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Diminta IDI Lockdown 2 Pekan, Jokowi Malah Perkuat PPKM Mikro, Disuruh Terapkan 3 M Lagi
Presiden Jokowi tetap perkuat PPKM Mikro hadapi pandemi Covid-19. (Foto/Sekretariat Presiden)
News

Diminta IDI Lockdown 2 Pekan, Jokowi Malah Perkuat PPKM Mikro, Disuruh Terapkan 3 M Lagi

Senin, 21 Juni 2021 16:59 WIB 21 Juni 2021, 16:59 WIB

INDOZONE.ID - Pemerintah enggan lakukan lockdown, namun terus memperketat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro guna memperlambat penyebaran virus Covid-19 yang saat ini tengah melonjak.

“Terkait dengan penebalan dan penguatan PPKM mikro arahan presiden tadi untuk melakukan penyesuaian, jadi ini akan berlaku mulai besok 22 Juni-5 Juli, dua minggu ke depan, bahwa penguatan PPKM mikro akan dituangkan dalam instruksi Menteri Dalam Negeri,” ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang ditunjuk Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) melalui konfrensi pers virtual, Senin (21/6/2021).

Guna mewujugkan langkah itu pemerintah juga memangkas jam operasional pusat keramaian dan pengetatan disiplin masyarakat dalam menerapkan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak dan menghindari keramaian.

Disamping itu pemerintah juga membatasi seluruh kegiatan tempat makan dibatasi hingga 20.00 WIB dengan kapasitas 25 persen pengunjung dine in atau makan di tempat.

“Ini untuk untuk kegiatan dine in atau makan minum paling banyak 25% dari kapasitas, dan sisanya di take away ataupun di bawa pulang,” ucap Airlangga, Senin (21/6/2021).

Disamping itu layanan pesan antar atau bawa pulang juga disesuaikan dengan jam operasi restoran.

"Jadi dibatasi sampai dengan pukul 8 malam. Dan kemudian protokol kesehatan diterapkan secara ketat,” tambahnya.

Selain itu, pemerintah juga mengatur jam operasional kegiatan di pusat perbelanjaan atau mall, yakni hingga pukul 20.00 WIB, dan kapasitasnya juga menurun menjadi 25 persen.

Airlangga Hartarto dalam konfrensi pers virtual. (Youtube)
Airlangga Hartarto dalam konfrensi pers virtual. (Youtube)

“Kemudian kegiatan di pusat perbelanjaan mall ataupun pasar dan pusat perdagangan maksimal sampai dengan jam 20.00. Dan pembatasan pengunjung paling banyak 25% dari kapasitas,”  tandas Airlangga.

Sebelumnya Ketua Dewan Pertimbangan PB IDI Prof Dr dr Zubairi Djoerban, SpPD(K). Dia meminta Indonesia melakukan lockdown selama dua minggu.

"Saran saya. Lebih bijaksana bagi Indonesia untuk terapkan lockdown selama dua minggu," kata Zubairi melalui akun Twitternya, dikutip Senin (21/6/2021).

Zubairi menjelaskan bahwa kebijakan lockdown tepat diambil sekarang ini untuk memperlambat penularan Covid-19 dan menstabilkan fasilitas kesehatan agar pasien tak membludak.

Anak sekolah belajar online dari rumah. (Foto/Antara)
Anak sekolah belajar online dari rumah. (Foto/Antara)

"Untuk apa? Memperlambat penyebaran, meratakan kurva, menyelamatkan fasilitas kesehatan, dan yang pamungkas: menahan situasi pandemi jadi ekstrem--yang akan membahayakan lebih banyak nyawa," tegasnya.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra juga menilai pemerintah harus berani radikal dalam mengambil keputusan guna menangani pandemi Covid-19.

"Pemerintah harus berani radikal (mengambil keputusan penanganan Covid-19)," kata Hermawan, Minggu (20/6/2021).

Menurut Hermawan ada dua opsi yang bisa diambil pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 saat ini, seperti pembatasan sosial berskala besar nasional atau mungkin lockdown regional.

Namun, Ketua Bidang Komunikasi Publik Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Hery Trianto telah menjelaskan alasan pemerintah hingga saat ini tidak mengambil kebijakan penerapan "lockdown" atau karantina wilayah.

Hery mengatakan ubstansi PPKM mikro sebagai kebijakan untuk mencegah penyebaran COVID-19 yang berjalan selama ini sama dengan "lockdown".

"Jadi jangan dibenturkan antara kebijakan lockdown dengan pembatasan kegiatan masyarakat. Substansinya sama, membatasi mobilitas masyarakat untuk menekan laju penularan," kata Hery.

Seperti diketahui, beberapa hari terakhir, kasus Covid-19 di Indonesia terus melonjak, padahal sempat menurun di bulan Maret. Dalam satu bulan terakhir, pertumbuhan kasus corona di Indonesia naik 92%.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fahrizal Daulay
JOIN US
JOIN US