The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Begini Cara Membatasi Penggunaan Gawai Anak Menurut Psikolog
Ilustrasi anak bermain gadget. (Unsplash/@mckaelataylor)
Life

Begini Cara Membatasi Penggunaan Gawai Anak Menurut Psikolog

Minggu, 25 Juli 2021 12:01 WIB 25 Juli 2021, 12:01 WIB

INDOZONE.ID - Psikolog anak lulusan Universitas Indonesia Fathya Artha Utami, M.Sc., M.Psi, mengatakan bahwa orang tua bisa membatasi penggunaan gawai (gadget) anak dengan membuat rutinitas atau jadwal beraktivitas dan bermain bersama.

"Di masa pandemi, penggunaan internet dan gadget meningkat drastis. Misalnya ketika orang tua sedang meeting, anak akhirnya juga diberi gadget. Tapi, ini bisa disiasati, mulai dari jadwal kapan dia diberi gadget, kapan dia harus bermain bersama mama dan papa, itu harus diatur," kata Fathya dalam seminar web beberapa waktu lalu, seperti dilansir Antara.

Lebih lanjut, Fathya mengatakan bahwa orang tua tidak perlu terpaku untuk mengajak anak beraktivitas yang sifatnya fisik, terlebih, orang tua juga pasti lelah karena energinya juga sudah terkuras saat bekerja walaupun dari rumah.

Banyak jenis aktivitas dan permainan yang bisa dilakukan bersama. Bahkan, Fathya tidak menutup kemungkinan bermain gawai bersama pun bisa dilakukan.

"Aktivitas lain tidak melulu aktivitas fisik saja. Ajak anak untuk bermain yang orang tua juga ikut excited. Penggunaan gadget juga bisa sehat ketika bersama dengan (pendampingan) orang tuanya," kata dia.

"Kita juga bisa siasati dengan misalnya me-print karakter kartun yang ia lihat di gadget, lalu menggambar dan menempel bersama. Ini tentu untuk membuat anak kurang main gadget, tapi ada strategi kapan main dan lepas gadget. Distraksinya dijauhkan dan dihindari," imbuhnya.

Namun, bagaimana kalau anak menolak lalu menjadi marah? Saat disinggung mengenai hal itu, psikolog yang juga menempuh pendidikan di University of Amsterdam itu menganjurkan para orang tua untuk tidak memberikan "hukuman" tertentu ketika si kecil bandel.

"Hukuman ini tidak efektif untuk membantu anak mengerti apa pun yang ingin kita ajarkan. Ketika kita memberikan hukuman, kita akan kehilangan momen untuk menjelaskan kenapa orang tua marah," kata Fathya.

"Dibanding memberi hukuman, mending terima emosi yang dia rasakan dulu. Ngobrol sama anak, apa yang bikin anak marah, lalu kita jelaskan apa perilaku yang kita harapkan. Anak (marah) karena mungkin cuma itu hal yang baru dia tahu. Kita harus memberi tahu bahwa ada opsi lain yang bisa dilakukan. Orang tua bisa redirect ke perilaku yang lebih konstruktif. Namun, memang butuh waktu untuk memandu dan meregulasi emosi anak," jelasnya menambahkan.

Anak yang marah tidak menutup kemungkinan juga akan menyulut rasa marah orang tua, dan malah ikut memarahinya kembali. Fathya mengatakan, orang tua yang sudah terlanjur memarahi anak, wajib hukumnya bagi ayah atau ibu untuk mendatangi anak dan mengakui kesalahannya.

"Anak-anak, istilahnya adalah kita membesarkan orang dewasa. Kalau kita kelepasan marah, bagaimana? Kita datang dan akui kesalahan kita. Jelaskan mengapa. Orang tua bisa menjelaskan, dan diikuti dengan solusi yang bisa anak mengerti. Hal ini juga melegakan diri," kata dia.

TAG
Zal
Zal

Zal

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US