Ini Alasan Kasus Positif Virus Corona di Indonesia Ditemukan di Gelombang Kedua
Petugas Ahli Teknologi Laboratorium Medik melakukan Tes Swab melalui mulut dan hidung di gedung Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Depok, Jawa Barat, Senin (6/4/2020). (INDOZONE/Arya Manggala)
Health

Ini Alasan Kasus Positif Virus Corona di Indonesia Ditemukan di Gelombang Kedua

Kontrol suhu.

Rabu, 08 April 2020 14:35 WIB 08 April 2020, 14:35 WIB

INDOZONE.ID - Kasus positif Covid-19 di Indonesia pertama kali ditemukan pada awal Maret 2020. Padahal sejumlah negara telah mengalami wabah penyebaran virus corona baru sejak akhir Desember 2019 hingga Januari 2020.

Lantas, apa yang membuat di Indonesia belum ada kasus wabah Covid-19 di gelombang pertama? Menurut Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Prof. Dwikorita Karnawati, M.Sc. P.hD, hal itu berkaitan dengan kontrol suhu dan kelembapan udara yang rendah.

Berdasarkan dataset lebih dari 400 kota di Tiongkok, Italia, Jepang, dan beberapa negara lainnya, antara 20 Januari - 11 Maret 2020, berdasarakan kombinasi data dari temperatur, kelembapan relatif, dan kecepatan angin, temperatur idealnya adalah 8-10°C dan kelembapan 60-90%.

"Saat itu di Indonesia, bulan Desember-Januari, meskipun musim hujan suhu rata-rata lebih dari 20°C dan kelembapan udara justru lebih tinggi dari sekarang. Dengan demikian lingkungan di Indonesia dan negara-negara tropis lainnya tidak ideal untuk mengalami outbreak di gelombang pertama," ujar Dwikorita dalam suatu diskusi online baru-baru ini.

Dalam paparannya Dwikorita mengungkapkan, Indonesia merupakan negara yang terletak di sekitar garis khatulistiwa. Suhu rata-rata berkisar antara 27-30°C dan kelembapan udara berkisar antara 70-95%. Lingkungan ini cenderung tidak ideal untuk outbreak Covid-19. Akan tetapi, perlu diingat jika iklim bukan satu-satunya faktor penyebaran virus corona baru.

Ilustrasi virus corona
Ilustrasi virus corona (freepik)

Fakta menunjukkan telah terjadi penyebaran kasus Covid-19 di Indonesia pada gelombang kedua. Salah satu faktor utama yang lebih berpengaruh adalah mobilitas masyarakat. Inilah yang kemudian meningkatkan penyebaran virus corona baru dan peningkatan kasus.

Faktor suhu dan kelembapan udara hanya faktor pendukung untuk mengurangi risiko penyebaran apabila ada upaya pembatasan mobilitas masyarakat, interaksi sosial, serta intervensi kesehatan masyarakat.

"Faktor mobilitas orang atau interaksi sosial jauh lebih berpengaruh saat ini. Cuaca bukan satu-satunya faktor pengontrol transmisi penyebaran wabah ini," pungkas Dwikorita.


Artikel Menarik Lainnya:

TAG

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US