Pencegahan Virus Corona Sulit Diterapkan di Tempat Kumuh dan Pengungsian, Kenapa?
Kawasan wilayah kumuh (freepik)
Health

Pencegahan Virus Corona Sulit Diterapkan di Tempat Kumuh dan Pengungsian, Kenapa?

Langkah pencegahan sulit dilakukan

Kamis, 26 Maret 2020 18:15 WIB 26 Maret 2020, 18:15 WIB

INDOZONE.ID - Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir merupakan salah satu cara untuk terhindar dari infeksi virus corona baru. Selain itu, social distancing atau jarak sosial juga terus digaungkan guna mencegah penyebaran Covid-19 yang lebih luas. Akan tetapi, kedua hal ini sulit dilakukan oleh orang-orang tertentu terutama mereka yang tinggal di daerah kumuh maupun kamp pengungsian.

Menurut Jonathan Whittall, Direktur Departemen Analisis untuk Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Lintas Batas, tindakan mencuci tangan tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang kesulitan mengakses air mengalir dan sabun. Lalu untuk orang-orang yang tinggal di tempat kumuh atau kamp pengungsi tidak bisa menerapkan social distancing lantaran mereka tinggal di tempat yang sempit dan terbatas.

"Setiap orang dipengaruhi oleh pandemi Covid-19, tetapi dampaknya mungkin dirasakan lebih berat oleh beberapa orang. Meluasnya penyebaran Covid-19 terus mengekspos ketidaksetaraan yang ada dalam sistem kesehatan," kata Jonathan dalam keterangannya, Kamis (26/3/2020).

Kawasan wilayah kumuh
Kawasan wilayah kumuh (freepik)

Dirinya menambahkan, salah satu contoh ketidaksetaraan adalah kurangnya investasi dalam layanan kesehatan publik gratis untuk semua masyarakat. Hal ini membuat hanya orang-orang tertentu yang bisa mengakses layanan kesehatan berkualitas. Belum lagi ada orang-orang yang tidak bisa kerja dari rumah dan terpaksa kehilangan cuti sakit karena terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Covid-19 memperlihatkan sekarang ini keputusan kebijakan pengucilan sosial, mengurangi akses ke layanan kesehatan gratis, dan peningkatan ketidaksetaraan akan dirasakan oleh semua orang. Kebijakan-kebijakan tersebut adalah musuh kesehatan bersama," ujar Jonathan.

Menurutnya, pandemi Covid-19 mengungkapkan kerentanan bersama. Mulai dari ketidakberdayaan yang dirasakan oleh banyak orang, celah-celah dalam perasaan aman, hingga keraguan tentang masa depan. Hal ini merupakan ketakutan dan kekhawatiran yang dirasakan oleh begitu banyak masyarakat yang telah dikecualikan, diabaikan, atau bahkan dijadikan sasaran oleh pemegang kekuasaan.

"Saya berharap Covid-19  tidak hanya mengajarkan kita untuk mencuci tangan, tetapi membuat pemerintah memahami bahwa pelayanan kesehatan harus untuk semua orang," tandas Jonathan.


Artikel Menarik Lainnya:

TAG

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU