The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Terlalu Lama Menatap Layar Ponsel, Laptop, hingga Televisi Bisa Menyebabkan Kebutaan Dini
Menatap layar lebih lama membuat rabun jauh. (Photo/Today)
Health

Terlalu Lama Menatap Layar Ponsel, Laptop, hingga Televisi Bisa Menyebabkan Kebutaan Dini

Kamis, 25 November 2021 21:26 WIB 25 November 2021, 21:26 WIB

INDOZONE.ID - Selama pandemi Covid-19, masyarakat berjuang untuk tidak bertemu orang lain. Oleh karenanya, kebanyakan masyarakat menggunakan alat untuk tetap menjalin hubungan komunikasi.

Namun, akibatnya orang-orang lupa bahwa terlalu lama menatap layar ponsel bisa menyebabkan penyakit miopi. Miopi merupakan kondisi di mana mata tidak dapat melihat benda dengan jelas.

Kondisi itu juga dikenal sebagai rabun yang cenderung diwariskan oleh keluarga. Objek yang jauh terlihat buram. Kondisi ini dapat berkembang secara perlahan atau cepat. Tidak hanya karena menatap layar ponsel saja, layar lainnya seperti laptop, televisi, juga menjadi salah satu faktor penyakit miopi bisa berkembang.

Mata 'Memanjang'

mata
(Photo/Ilustrasi/The New York Post)

Berdasarkan laporan dari The Guardian, seorang dokter mata anak di Houston Eye Associates, bernama Dr Aaron Miller mengatakan bahwa bentuk mata anak sebenarnya bulat. Ketika orang mengalami rabun jauh, bentuk bola mata berubah atau menjadi 'memanjang'.

Hal itu terjadi karena mata terlalu lama menatap layar, meregangkan otot, menyebabkan lensa bergeser karena harus memberi ruang untuk melihat jarak dekat, hingga mengubah bentuknya sepenuhnya.

Menurut Miller, ini mungkin tampak seperti sesuatu yang bisa diperbaiki oleh kacamata, tetapi perubahan bentuk mata menyebabkan beberapa masalah.

Baca juga: 63 Ayam Mati Mendadak Terkena Serangan Jantung Gara-gara Musik Hajatan

Retakan Retina dan Rabun Jauh

retakan pada mata
(Photo/Ilustrasi/Today)

Sebagai permulaan, seiring bertambahnya usia, dapat terjadi retakan pada retina, yang mengakibatkan ablasio retina, yang dapat mengakibatkan kebutaan. Ini juga dapat menyebabkan glaukoma dan masalah sekunder akibat rabun jauh. Sebuah studi baru-baru ini telah menyoroti bagaimana miopi masa kanak-kanak berada di ambang menjadi krisis kesehatan masyarakat.

Studi yang diterbitkan British Journal of Ophthalmology oleh para peneliti di Chinese University of Hong Kong telah melihat peningkatan yang cukup besar dalam kasus miopi pasca-pandemi. Hal ini karena peningkatan anak-anak sekolah menggunakan gawai lebih lama di waktu pandemi Covid-19.

Proses Penelitian

mata
(Photo/Ilustrasi/The Sun)

Anak-anak menjalani pemeriksaan mata bersama dengan kuesioner standar yang menanyakan tentang gaya hidup mereka dan tentang rutinitas mereka termasuk frekuensi kegiatan di dalam dan di luar ruangan - baik pada kunjungan awal maupun kunjungan tindak lanjut.

Anak-anak dalam kelompok pra-pandemi menghabiskan rata-rata 1,27 jam per hari, sedangkan anak-anak dari kelompok pascapandemi menghabiskan 0,90 jam di luar ruangan per hari. Di sisi lain, waktu layar rata-rata melonjak dari 2,45 jam per hari menjadi 6,89 jam per hari.

Para peneliti melihat peningkatan insiden miopi - 36,57 persen di antara anak sekolah selama pandemi sedangkan kelompok pra-pandemi hanya 19,44 persen.

“Hasil kami berfungsi untuk memperingatkan para profesional perawatan mata, dan juga pembuat kebijakan, pendidik dan orang tua, bahwa upaya kolektif diperlukan untuk mencegah miopi masa kanak-kanak. Potensi krisis kesehatan masyarakat sebagai akibat dari COVID-19,” jelas ilmuwan dalam hasil penelitian.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fahrizal Daulay
M. Rio Fani

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US