The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Hati-hati! Demam Tiba-tiba Disertai Diare Bisa Jadi Gejala Tertular HIV
Ilustrasi seseorang yang sedang ambil sampel darah untuk tes HIV. (Freepik)
Health

Hati-hati! Demam Tiba-tiba Disertai Diare Bisa Jadi Gejala Tertular HIV

Beda dengan demam biasanya.

Kamis, 01 Desember 2022 18:17 WIB 01 Desember 2022, 18:17 WIB

INDOZONE.ID - Penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia, dinilai sudah dapat dikendalikan. Meski begitu, untuk penanganan dan pengobatannya dirasa masih belum optimal.

Sementara itu, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Konsultan, Hanny Nilasari, mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri tes HIV. Apalagi, jika mengalami gejala demam tanpa sebab atau tiba-tiba, yang pasti disertai diare.

“Demam yang tidak diikuti batuk, pilek, bukan seperti demam infeksi paru-paru,” ucap Hanny, dikutip dari Antara, Kamis (1/12/2022).

“Kemudian diikuti diare dan ada penurunan berat badan. Nah, itu harus kita perhatikan dan memeriksakan diri ke tenaga kesehatan,” sambungnya.

Baca Juga: UNICEF: 110 Ribu Anak dan Remaja Meninggal Akibat AIDS

Gejala lain yang menyerang penderita HIV adalah, timbulnya gejala berat secara mendadak pada pasien. Hanny mencontohkan, penyakit Dermatitis Seboroik, gangguan kulit yang menyerang wajah atau kulit kepala yang menyebabkan kulit menjadi bersisik.

Ketika pasien melakukan pemeriksaan, barulah kemudian dokter mencurigai terjadinya penularan pada pasien.

“Biasanya, gejalanya sudah berat baru ketahuan karena pada saat awal, sel-sel imunitas masih cukup mengatasi berbagai macam infeksi. Namun, pada suatu saat di mana daya tahan sudah turun, sehingga manifestasi infeksinya bisa sangat berat,” katanya.

Guna menghindari penularan HIV, Dokter Divisi Infeksi Menular Seksial RSCM Kencana ini menyarankan, masyarakat untuk lebih paham terhadap faktor resiko yang bisa menyebabkan terjadinya penularan HIV.

Baca Juga: Sejarah AIDS di Indonesia, Prof Zubairi Djoerban Penemu Pertama Kali Tahun 1983

Penyebab utama dari penularan HIV adalah, kontak seksual yang beresiko yakni kontak seksual dengan berganti pasangan. Lalu, tidak mengetahui status pasangan dengan jelas.

“Kalau tahu bahwa kita beresiko, tentu akan makin baik kalau kita tahu cepat apakah kita mengalami infeksi ini, karena infeksi ini bisa diobati. Makin cepat pengobatan dilakukan, makin baik perjalanan penyakitnya dan tidak akan masuk ke AIDS,” tuturnya.

Lebih lanjut, Hanny mengimbau, masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri jika memang merasa memiliki gejala HIV. Sebab, semakin cepat pengobatan dilakukan, maka semakin baik kualitas hidup dari penderita HIV.

Baca Juga: 1 Desember Hari AIDS Sedunia, Siapa Saja Kelompok Orang yang Berisiko Terkena HIV?

Hal itu bisa terjadi selama pasien teratur meminum obat dan berkomitmen untuk sembuh.

“Sel imunitasnya bisa terjaga dengan baik dan tidak menimbulkan infeksi apa-apa. Banyak pasien yang sudah diobati dan sampai 10-20 tahun itu masih sehat,” ucap Hanny.

Adapun pada Hari AIDS Sedunia yang diperingati pada 1 Desember, Hanny berharap, dapat menjadi langkah kecil sebagai pengingat untuk mencegah penularan HIV. Apalagi, HIV membutuhkan pengobatan yang teratur dalam jangka panjang, serta juga berdampak pada kematian.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Dina Agustina
Achmad Rafiq
JOIN US
JOIN US