Studi: Dampak Polusi Udara Setara dengan Mengisap Satu Bungkus Rokok
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
Health

Studi: Dampak Polusi Udara Setara dengan Mengisap Satu Bungkus Rokok

Rizka
Jumat, 16 Agustus 2019 13:31 WIB 16 Agustus 2019, 13:31 WIB

Sebuah penelitian yang dipublikasikan The Journal of the American Medical Association (JAMA) menunjukkan bahwa kenaikan polusi sebanyak 3 parts per billion (ppb) dalam jangka waktu 10 tahun dapat meningkatkan risiko emfisema.

Emfisema adalah salah satu dari beberapa penyakit yang secara kolektif dikenal sebagai penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Merokok adalah penyebab utama emfisema. Kondisi ini akan membuat kantung udara di paru-paru si penderita secara bertahap hancur dan membuat napas lebih pendek.

Penelitian tersebut telah membuktikan bahwa jumlah polusi sebanyak 3 ppb itu setara dengan merokok satu bungkus setiap harinya selama 29 tahun. Hasil studi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim akibat ulah manusia dapat memperburuk kesehatan.

Polusi udara di Jakarta
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Para peneliti juga melacak polutan udara di beberapa wilayah perkotaan seperti Chicago, Winston-Salem, North Carolina, Baltimore, Los Angeles, St. Paul, Minnesota, dan New York. Kemudian, sebanyak 7.000 partisipan yang dikumpulkan dari studi Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA) Air and Lung antara tahun 2000 hingga 2018, diperiksa fungsi paru-parunya secara keseluruhan.

Hasilnya, 15.000 hasil CT scan yang diambil dalam periode 18 tahun tersebut, diketahui bahwa ada korelasi kuat antara polusi udara dengan diagnosis penyakit emfisema.  "Kami terkejut melihat betapa kuatnya dampak pencemaran udara pada emfisema. Bahkan setingkat dengan efek merokok," kata Joel Kaufman, professor of environmental and occupational health sciences and epidemiology di School of Public Health, University of Washington.

Belakangan ini, kita ketahui pemerintah telah menerapkan beberapa kebijakan untuk mengurangi paparan polusi udara pada masyarakat. Namun, hal itu tetap saja tidak mengurangi dampak yang ditimbulkan karena lapisan ozon justru meningkat seiring perubahan iklim yang terjadi.

ANTARA FOTO/FB Anggoro
ANTARA FOTO/FB Anggoro

Ozon permukaan tanah dihasilkan ketika sinar ultraviolet berinteraksi dengan bahan bakar fosil. "Penemuan ini sangat penting karena kadar ozon terus meningkat dan jumlah kasus emfisema dari CT scan memprediksi adanya rawat inap dan kematian akibat penyakit paru-paru," kata R. Graham Barr, peneliti senior sekaligus profesor di Columbia University. 

"Saat suhu semakin meningkat akibat perubahan iklim, kadar ozon di permukaan tanah akan terus bertambah, kecuali jika kita mengambil langkah untuk menguranginya," tambah Barr. 

    TAG
    Editor Media
    Editor Media

    Rizka

    Editor