The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Kualitas Tidur Menurun Seiring Bertambahnya Usia, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ilustrasi orang tidur. (Pexels/Andrea Piacquadio)
Health

Kualitas Tidur Menurun Seiring Bertambahnya Usia, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jumat, 25 Februari 2022 12:25 WIB 25 Februari 2022, 12:25 WIB

INDOZONE.ID - Semakin bertambahnya umur, maka semakin menurun pula kualitas tidur kita. Para peneliti mengungkapkan bahwa kurang tidur bisa meningkatkan penyakit hipertensi, serangan jantung, diabetes, depresi dan penumpukan plak otak yang bisa menyebabkan Alzheimer.

Dikutip dari Antara, profesor dari Universitas Stanford Luis de Lecea mengatakan, lebih dari separuh orang yang lebih tua dan berusia 65 tahun mengeluhkan tentang kualitas tidur mereka.

Tim ilmuwan asal Amerika Serikat juga telah mengidentifikasi bagaimana sirkuit otak yang terlibat dalam mengatur tidur-terjaga menurun dari waktu ke waktu. Penelitian yang dilakukan oleh Jurnal Science ini dilakukan menggunakan sejumlah tikus.

De Lecea bersama rekannya kemudian memutuskan untuk menyelidiki hipokretin (hypocretin, zat kimia utama yang dihasilkan oleh sekelompokneuron di hipotalamus, bagian otak yang terletak di antara mata dan telinga.

Hasilnya, dari miliaran neuron di otak, hanya sekitar 50.000 yang menghasilkan hipokretin. Pada 1998, de Lecea dan ilmuwan lain telah menemukan bahwa hipokretin mengirimkan sinyal yang memainkan peran penting agar seseorang tetap terjaga.

Baca juga: Jadi Penghantar Kantuk, Mengapa Alunan Musik Bisa Bikin Kita Tertidur?

Oleh karena banyak spesies mengalami proses tidur yang terpotong-potong seiring bertambah usia, maka dihipotesiskan bahwa mekanisme yang sama juga berlaku di seluruh mamalia.

Penelitian sebelumnya menunjukkan rendahnya hipokretin menyebabkan narkolepsi pada manusia, anjing, dan tikus.

Tim peneliti de Lecea memilih tikus muda (usia tiga hingga lima bulan) dan tua (usia 18 hingga 22 bulan). Mereka menggunakan cahaya yang dibawa oleh serat untuk merangsang neuron tertentu dan merekam hasilnya menggunakan teknik pencitraan.

Tim menemukan tikus yang lebih tua telah kehilangan sekitar 38 persen hipokretin dibandingkan dengan tikus yang lebih muda.

Mereka juga menemukan bahwa hipokretin yang tersisa pada tikus tua lebih aktif dan mudah dipicu sehingga membuat hewan tersebut lebih rentan untuk bangun. Hal ini mungkin dikarenakan kerusakan 'saluran kalium' yang terjadi dari waktu ke waktu.

"Neuron cenderung lebih aktif dan menyala lebih banyak. Jika neuron menyala lebih banyak, Anda lebih sering bangun," ujar de Lecea.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fahrizal Daulay
Dina
Dina

Dina

Writer

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US