Anak Diuap karena Hidung Anak Mampet, Berlebihankah?
Ilustrasi anak diuap (FREEPIK)
Health

Anak Diuap karena Hidung Anak Mampet, Berlebihankah?

Wajarkah?

Kamis, 27 Februari 2020 19:59 WIB 27 Februari 2020, 19:59 WIB

INDOZONE.ID - Tidak ada orangtua yang senang ketika melihat anaknya sakit. Malah kebanyakan orangtua ingin menggantikan posisi anaknya ketika sakit. Maka tak heran saat anak sakit orangtua mengupayakan berbagai macam cara agar sang buah hati segera sembuh.

Akan tetapi, terkadang orangtua melakukan tindakan yang berlebihan untuk mengobati anaknya. Hal ini diungkapkan oleh dokter spesialis anak, Dr. dr Nastiti Kaswandani, Sp. A (K). Ia mencontohkan dalam pengobatan common cold atau selesma pada anak. Terkadang ada beberapa pengobatan yang dilakukan.

Contohnya pemberian antibiotik agar anak segera sembuh. Antibiotik sebenarnya ditujukan untuk penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Sedangkan selesma yang membuat anak batuk, pilek, dan demam lebih sering disebabkan oleh virus.

 anak tengah bermain hujan
Ilustrasi seorang anak tengah bermain hujan (Unsplash.com/MI PHAM)

Langkah pengobatan yang dianggap berlebihan lainnya adalah nebulisasi atau penguapan. Saat terserang batuk pilek, biasanya hidung anak mampet sehingga susah bernapas. Bila sudah begitu biasanya orangtua memilih opsi uap. Padahal menurut dr Nastiti itu tidak tepat.

"Nebulisasi adalah metode aman dan tidak berbahan. Tapi itu tidak memperbaiki keadaan anak karena nebulisasi itu targetnya adalah saluran napas bagian bawah. Sedangkan batuk pilek itu infeksi saluran pernapasan bagian atas," ujar dr Nastiti saat ditemui dalam suatu acara, Kamis (27/2/2020) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

anak tengah duduk
Ilustrasi seorang anak tengah duduk (Unsplash.com/Micha? Parzuchowski)

Menurutnya, opsi nebulisasi lebih ke psikis orangtua. Sebab orangtua ingin memberikan sesuatu kepada anak agar kondisinya bisa membaik saat sakit. Sayangnya hal itu tidak berdampak pada kondisi anak.

"Nebulisasi merupakan salah satu penanganan yang meskipun tidak berbahaya tapi berlebihan. Penanganan itu tidak dibutuhkan, justru membuang-buang obat, sarana, dan waktu, sementara tidak memperbaiki kondisi anak," pungkas dr Nastiti.


Artikel Menarik Lainnya:

TAG

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU