The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Menelisik Bahaya Stunting di Masa Pandemi Virus Corona
Ilustrasi bayi. (Pexels/Victoria Borodinova)
Health

Menelisik Bahaya Stunting di Masa Pandemi Virus Corona

Ini sebabnya.

Kamis, 14 Mei 2020 15:07 WIB 14 Mei 2020, 15:07 WIB

INDOZONE.ID - Pandemi virus corona membawa cerita sendiri bagi masyarakat. Tak hanya membawa dampak krisis bagi sektor industri, pandemi ini juga memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Menurut Badan Pangan Dunia (FAO) risiko krisis pangan akibat pandemi ini akan memberikan dampak yang begitu besar, termasuk stunting di Indonesia.

Hal ini dikarenakan sejumlah negara membatasi barang impor dari negara-negara produsen yang biasanya memasok kebutuhan domestik. Sementara sembako dalam negeri belum bisa berswasembada.

Pemerintah perlu berbenah diri dengan situasi sulit yang terus terjadi. Risiko stunting perlu penanganan yang serius, terlebih lagi saat pandemi virus corona ini. Melihat kenyataan tersebut perlu diadakannya pencegahan dan menurunkan risiko bahaya stunting yang terjadi di Indonesia.

"Melalui kerja sama yang dilakukan dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), kami menyelenggarakan program pengasuhan anak usia dini untuk mempersiapkan anak pada tahapan usia sekolah serta mensosialisasikan pencegahan dan menurunkan angka stunting di tengah pandemi," kata Eddy, Head of ECED Tanoto Foundation, melalui laman digital, Kamis (14/5/2020).

Kemiskinan dan bahaya stunting terus menunjukkan angka yang signifikan, kondisi ini memerlukan intervensi sejak dini. Langkah pertama yang perlu diambil yakni meningkatkan kesadaran kesehatan dan gizi bagi remaja, pasangan muda, wanita hamil dan ibu menyusui melalui platform sosial media.

Menelisik Bahaya Stunting di Masa Pandemi Virus Corona
Ilustrasi hamil. (Pexels/Garon Piceli)

"Kami juga ingin mendorong pemberian ASI eksklusif dan MPASI serta memenuhi kecukupan makanan bernutrisi bagi ibu menyusui, wanita hamil dan anak usia dini dengan bantuan yang telah tersedia di Puskesmas terdekat," ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa masyarakat saat ini membutuhkan bantuan konseling psikososial. Hal ini dilakukan dengan cara mengoptimalkan penyuluhan dengan konten-konten yang bermanfaat bagi orangtua dan anak-anak. Selain itu diadakan pula pemberdayaan pekerja garis depan seperti kader posyandu dan pendamping sosial.

Pandemi bisa saja berakhir dalam waktu dekat namun penanganan pasca pandemi memerlukan waktu yang cukup lama ini berkaitan juga dengan pemulihan ekonomi.

"Apabila penanganannya lama maka akan semakin besar pula dampak negatif bagi status gizi anak dan ibu hamil," terang Eddy Henry.

Oleh sebab itu, demi menurunkan angka stunting di Indonesia dibutuhkan kerja sama yang erat antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan instansi terkait lainnya.


Artikel Menarik Lainnya:

TAG
JOIN US
JOIN US