The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Hati-hati, Kurang Tidur Bisa Sebabkan Demensia di Kemudian Hari
Kurang tidur bisa menyebabkan demensia (Pexels/Andrea Piacquadio)
Health

Hati-hati, Kurang Tidur Bisa Sebabkan Demensia di Kemudian Hari

Berpengaruh pada otak.

Selasa, 04 Mei 2021 14:31 WIB 04 Mei 2021, 14:31 WIB

INDOZONE.ID - Perubahan pola tidur sering terjadi pada orang dengan penyakit Alzheimer dan demensia lainnya. Mereka mungkin sering terbangun di malam hari dan merasa sulit untuk kembali tidur.

Masalah tidur ini diperkirakan akibat perubahan otak yang disebabkan oleh penyakit yang memengaruhi siklus tidur-bangun.

Dilansir dari nih.gov, penelitian menunjukkan bahwa pola tidur dalam beberapa tahun lalu dapat menyebabkan risiko demensia di kemudian hari.

Baca Juga: Studi: Konsumsi Daging Olahan Bisa Tingkatkan Risiko Demensia!

Baik kurang tidur dan tidur lebih lama dari rata-rata telah dikaitkan dengan kemungkinan lebih besar terkena demensia. 
Namun, sulit untuk menentukan apakah perubahan tidur ini berkontribusi menyebabkan penyakit demensia atau sekadar mencerminkan gejala awal.

Banyak studi tentang tidur dan risiko demensia telah dilakukan. Penelitian melibatkan peserta selama kurang dari satu dekade dan berfokus pada orang yang berusia di atas 65 tahun. 

Sebuah studi yang dipimpin oleh Dr. Séverine Sabia dari Inserm dan University College London meneliti bagaimana pola tidur di awal kehidupan dapat memengaruhi timbulnya demensia beberapa dekade kemudian.

Studi ini didukung sebagian oleh NIH's National Institute on Aging (NIA). Temuan muncul di Nature Communications pada 20 April 2021.

Temuan demensia pada orang yang kurang tidur

Kurang tidur atau terlalu banyak tidur bisa sebabkan demensia?
Kurang tidur atau terlalu banyak tidur bisa sebabkan demensia? (Pexels/Andrea Piacquadio)

Para peneliti memeriksa data dari hampir 8.000 orang di Inggris mulai usia 50 tahun. Para partisipan dinilai berdasarkan berbagai pengukuran termasuk ditanyai pada enam kesempatan antara 1985 dan 2016 berapa jam mereka tidur semalam. 

Untuk menilai keakuratan pelaporan mandiri ini, beberapa peserta memakai akselerometer untuk mengukur waktu tidur secara objektif. Selama penelitian, 521 peserta didiagnosis menderita demensia, pada usia rata-rata 77 tahun.

Analisis data menunjukkan bahwa orang berusia 50-an dan 60-an yang tidur enam jam atau kurang berisiko lebih besar terkena demensia di kemudian hari. Dibandingkan dengan mereka yang tidur normal (didefinisikan sebagai 7 jam).

Para peneliti menyesuaikan model mereka untuk memperhitungkan faktor-faktor lain yang diketahui mempengaruhi pola tidur atau risiko demensia, termasuk merokok, aktivitas fisik, indeks massa tubuh, dan kondisi medis seperti diabetes dan penyakit jantung. Mereka juga memisahkan orang-orang dengan penyakit mental seperti depresi, yang sangat terkait dengan gangguan tidur.

Penemuan tersebut menunjukkan bahwa durasi tidur yang singkat selama usia paruh baya dapat meningkatkan risiko terkena demensia di kemudian hari. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengkonfirmasi hubungan ini dan memahami alasan yang mendasarinya.

“Meskipun kami tidak dapat memastikan bahwa kurang tidur sebenarnya meningkatkan risiko demensia, ada banyak alasan mengapa tidur malam yang nyenyak mungkin baik untuk kesehatan otak,” kata Sabia.

Kualitas tidur diketahui memainkan peran penting dalam konsentrasi dan pembelajaran, serta suasana hati dan kesehatan secara keseluruhan.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fiddy Anggriawan
Lanjar Wiratri
JOIN US
JOIN US