The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Megalomania Ada Kaitannya dengan Skizofrenia dan Bipolar, Berikut Gejala dan Pengobatannya
Ilustrasi megalomania (Freepik @kues1).
Health

Megalomania Ada Kaitannya dengan Skizofrenia dan Bipolar, Berikut Gejala dan Pengobatannya

Senin, 24 Januari 2022 21:13 WIB 24 Januari 2022, 21:13 WIB

INDOZONE.ID - Pernahkah kamu bertemu atau menghadapi orang yang merasa berkuasa? Orang tersebut boleh jadi mengidap megalomania.

Dalam dunia kesehatan, megalomania digolongkan dalam gangguan kepribadian narsistik. Adapun menurut kamus Cambridge, megaloman adalah seseorang yang memiliki keinginan kuat namun tidak lazim terhadap kontrol dan kekuasaan, atau berpikir bahwa mereka lebih penting atau berkuasa dibandingkan kenyataannya.

Dikutip dari klikdokter, menurut DSM-5 (Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorders), panduan diagnosis gangguan mental yang dibuat oleh American Psychiatric Association, gangguan kepribadian narsistik membuat seseorang selalu membutuhkan rasa ingin dikagumi orang lain, namun kurang memiliki rasa empati.

Dalam tahap tertentu, megalomania serupa dengan waham kebesaran, salah satu waham dalam penyakit skizofrenia.

Seperti dilansir alodokter, megalomania pada dasarnya adalah gejala gangguan jiwa berupa gangguan isi pikiran. Beberapa jenis gangguan jiwa yang bisa menimbulkan megalomania, antara lain skizofrenia, gangguan bipolar, demensia, delirium, dan gangguan waham.

Skizofrenia sendiri adalah gangguan kejiwaan kronis yang menyebabkan penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri. Skizofrenia dapat menyebabkan beberapa gejala, seperti halusinasi, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku.

Sedangkan bipolar adalah gangguan kejiwaan yang menyebabkan penderitanya mengalami perubahan emosi secara drastis. Orang dengan gangguan bipolar biasanya dapat mengalami fase mania (sangat senang) dan fase depresi (sangat terpuruk).

Gejala Megalomania

Secara umum, gejala megalomania muncul saat seseorang berusia dewasa muda dan dapat ditemukan dalam beberapa situasi, misalnya situasi pekerjaan atau keluarga.

Orang tersebut biasanya akan merasa dirinya penting; muncul khayalan mengenai sukses yang tidak terbatas, kekuasaan, kecemerlangan, kecantikan, atau cinta yang ideal; muncul kepercayaan bahwa dirinya merupakan individu yang spesial atau istimewa, serta hanya dapat dipahami atau hanya dapat bergaul dengan orang atau institusi lain yang spesial atau berstatus tinggi; muncul kebutuhan akan kekaguman dari orang lain yang berlebihan; berperilaku suka memanfaatkan atau mengeksploitasi orang lain; kurang empati terhadap orang lain, sering cemburu terhadap orang lain atau merasa bahwa orang lain memiliki kecemburuan terhadap dirinya; sombong dan angkuh.

Pengobatan

Megalomania dapat disembuhkan dengan obat-obatan antipsikotik. Obat yang sering kali digunakan adalah mood stabilizer, antipsikotik, antidepresan, serta obat antikecemasan.

Selain obat, megalomania juga dapat disembuhkan dengan psikoterapi. Terapi bicara atau terapi perilaku kognitif dinilai dapat membantu meringankan gejala megalomania. Psikoterapi tersebut bertujuan untuk mengubah pemikiran yang tidak masuk akal menjadi lebih masuk akal dan bisa dipertahankan. Basanya terapi ini tetap harus dibarengi dengan obat-obatan.

Jika masih belum berhasil, seseorang yang mengidap megalomania dapat disembuhkan di rumah sakit jiwa.

Artikel Menarik Lainnya:

Apa Itu Waham Siar, Halusinasi yang Biasa Dialami oleh Orang Dengan Skizofrenia?

Mengenal Megalomania Berdasarkan Postingan Rai D'Masiv

Zodiak Paling Narsis yang Berpotensi Mengalami Megalomania
 

TAG
Abul Muamar
Abul Muamar

Abul Muamar

Editor
JOIN US
JOIN US