The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Waspada! Sindrom Pascapolio Setelah Infeksi Pertama: Susah Menelan hingga Susah Tidur
Ilustrasi anak yang sedang divaksin polio. (Freepik)
Health

Waspada! Sindrom Pascapolio Setelah Infeksi Pertama: Susah Menelan hingga Susah Tidur

Terjadi 5-40 tahun mendatang.

Jumat, 02 Desember 2022 08:07 WIB 02 Desember 2022, 08:07 WIB

INDOZONE.ID - Bagi anak-anak yang pernah mengidap penyakit polio, hati-hati dengan adanya sindrom pascapolio. Hal ini bisa terjadi sekitar lima sampai 40 tahun mendatang, setelah infeksi pertama.

Dokter spesialis anak, dr. Asri Pandijaningsih Sp.A, mengingatkan, untuk mewaspadai adanya sindrom pascapolio tersebut. Keluhannya pun bermacam-macam.

"Apa yang terjadi adalah gangguan menelan jadi orang-orang tua susah sekali untuk menelan, kemudian gangguan pernafasan kesulitan tidur, gejalanya memang bervariasi," ucap dr Asri, dikutip dari Antara, Jumat (2/12/2022).

Baca Juga: Banyak Orang Tua Tolak Imunisasi Polio karena Dianggap Membahayakan

Ia mengatakan, untuk menghindari adanya sindrom pascapolio pada saat anak dewasa, orangtua perlu mewaspadai sejumlah gejala. Misalnya, anak mengalami muntah, sakit kepala, dan terutama jika terdapat kelemahan pada otot-otot tungkai, maka segera ke dokter.

"Atau ditemukannya keadaan lumpuh layu, kelemahan pada tungkai pada anak kurang dari usia 15 tahun, maka segera ke dokter. Karena penemuan dini paling tidak sangat bermanfaat untuk mengurangi kecacatan lebih lanjut," katanya.

Dokter dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Ciputat ini mengatakan, pada orang yang terinfeksi polio kebanyakan tidak merasakan gejala. Namun, virus ini sudah menyebar di tubuhnya, dan akan berbahaya jika keluar lewat BAB orang yang positif polio.

Akan tetapi, ada beberapa gejala yang bisa diamati seperti pada polio non paralisis. Gejala yang timbul antara lain demam, nyeri saat menelan, kaku daerah leher, dan sakit kepala.

Baca Juga: Konfirmasi 3 Kasus Polio di Aceh, Kemenkes Bocorkan Kondisinya

Namun, gejala tersebut akan bisa sembuh dengan sendirinya, dan tidak menyebabkan kelumpuhan.

Sedangkan pada polio paralisis, yaitu yang menyebabkan kelumpuhan, biasanya diawali dengan gejala yang sama dengan non-paralisis. Namun, sekitar satu minggu kemudian berkembang menjadi kelemahan otot yang makin kuat dan tidak adanya refleks otot.

"Yang kita takutkan selain kelemahan otot tungkai, sebagian kecil juga ada kelemahan otot diafragma, otot yang mengatur kita bernafas," tutur dr Asri.

Ia mengatakan, polio bisa menyerang siapa saja, namun yang paling rentan adalah golongan balita. Maka, imunisasi saat balita penting untuk upaya pencegahan yang utama.

Sementara itu, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi baru lahir akan diberikan polio tetes dan dilanjutkan dengan imunisasi pada usia dua bulan, tiga bulan, empat bulan dan saat anak berusia satu setengah tahun.

"Maka paling tidak saat sebelum usia satu tahun seorang anak itu sudah mendapatkan imunisasi polio secara suntik, paling tidak sudah dua kali. Namun, kalau enggak bisa minimal tiga atau empat kali minimal satu kali suntikan," imbuh Asri.

Selain melengkapi imunisasi polio anak, pencegahan lainnya adalah perilaku hidup sehat, BAB di jamban, dan selalu mencuci tangan dengan sabun.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Dina Agustina
Achmad Rafiq
ARTIKEL LAINNYA
LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US