The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

WHO: Satu dari Empat Orang di Dunia Alami Gangguan Pendengaran pada 2050
Dokter THT yang tengah memeriksa telinga. (photo/Ilustrasi/Pexels/Karolina Grabowska)
Health

WHO: Satu dari Empat Orang di Dunia Alami Gangguan Pendengaran pada 2050

Jumat, 12 Maret 2021 15:44 WIB 12 Maret 2021, 15:44 WIB

INDOZONE.ID - Satu dari empat orang di seluruh dunia dapat hadapi beberapa tingkat gangguan pendengaran pada 2050 dengan setidaknya 700 juta butuhkan akses ke perawatan dan rehabilitas, menurut sebuah laporan WHO yang bersifat memperingatkan. 

Laporan WHO pertama tentang pendengaran memperkirakaan bahwa pada 2050, jumlah tertinggi orang dengan tingkat gangguan pendengaran terterntu kemungkinan besar ditemukan di wilayah Pasifik Barat, yang meliputi Kamboja, Malaysia, Filipina, dan Vietnam, dengan hampir 760 juta dan kawasan Asia Tenggara, yang meliputi Bangladesh, Bhutan, India, dan Indonesia dengan hampir 660 juta. 

Laporan itu menekankan kebutuhan mendeska akan inisiatif untuk cegah dan mengatasi gangguan pendengaran dengan mendanai serta perluas akses ke layanan perawatan telinga dan pendengaran. WHO juga berikan komentarnya.

"Investasi dalam perawatan telinga dan pendengaran telah terbukti hemat biaya," dan pemerintah dapat "mengharapkan pengembalian hampir US $ 16 untuk setiap US $ 1 yang diinvestasikan," ungkap WHO dalam pernyatana pers yang diluncurkan 2 Maret kemarin. 

Perawatan terkait telinga dan pendengaran saat ini tidak diintegrasikan ke dalam sistem kesehatan nasional di sebagian besar negara & sumber daya manusia seringkali kurang, menurut laporan itu. Dilaporkan, 78 persen negara berpenghasilan rendah mempunyai kurang dari satu dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan atau THT per satu juta populasi dan 93 persen memiliki kurang dari satu audiolog per satu juta populasi. 

Dengan mengintegrasikan perawatan telinga dan pendengaran ke dalam  perawatan kesehatan primer, menggunakan strategi seperti pembagian tugas dan pelatihan, sumber daya manusia yang tidak memadai dapat diatasi, ungkap laporan itu, menambahkan bahwa perawatan medis dan bedah awal, rehabilitasi dan penggunaan alat bantu dengan dan implan koklea adalah berharga. 

"Pada orang dewasa, pengendalian kebisingan, pendengaran yang aman, dan pengawasan untuk obat-obatan ototoxic (obat-obatan yang digunakan untuk mengobati infeksi serius tetapi juga dapat merusak telinga) bersama dengan kebersihan telinga yang baik dapat membantu menjaga pendengaran yang baik dan mengurangi potensi gangguan pendengaran," ungkap laporan itu.

Melihat hal itu, Anil K, Lalwani selaku Direktur di Divsi Otologi, Neurolotolig, dan Bedah Dasar Tengkorak di  Universitas Columbia berikan komentarnya.

"Tidak adanya akses yang siap untuk kesehatan pendengaran di seluruh dunia adalah parodi modern dari proporsi yang monumental. Meskipun tersembunyi, konsekuensi yang menghancurkan semuanya terlihat jelas dalam kesulitan ekonomi, kemampuan kerja, kognisi, dan kualitas hidup. Kita harus bertindak, dan kita harus bertindak sekarang. Kita perlu membuat kesehatan pendengaran dapat diakses dan terjangkau. Penggunaan petugas kesehatan komunitas dapat meningkatkan aksesibilitas sementara teknologi efektif yang lebih murah akan meningkatkan keterjangkauan. " lanjutnya. 

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fernando Sutanto
JOIN US
JOIN US