Ketahui Penyebab dan Diagnosa Autisme pada Anak Sejak Dini
Ilustrasi anak laki-laki mengalami austime (indianexpress.com)
Health

Ketahui Penyebab dan Diagnosa Autisme pada Anak Sejak Dini

Kamis, 02 April 2020 15:30 WIB 02 April 2020, 15:30 WIB

INDOZONE.ID - Kelainan autisme merupakan kondisi gangguan neurobehavioral (syaraf dan perilaku) yang serius dan kompleks.

Anak yang didiagnosa autis akan memandang, mendengarkan, dan berinteraksi dengan cara berbeda.

Umumnya, ciri-ciri autisme pada anak ditandai dengan masalah dalam berinteraksi, komunikasi non verbal, komunikasi verbal, keterampilan sosial, dan sistem motorik.

Kondisi autisme sendiri termasuk bagian dari gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD).

Apabila selama ini sebagian besar orang berpendapat bahwa autisme adalah penyakit kejiwaan, maka hal itu tidaklah benar.

Untuk diketahui, autisme bukanlah penyakit kejiwaan, melainkan gangguan yang terjadi pada otak, sehingga menyebabkan otak tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal.

Faktor Penyebab Autisme pada Anak

Terkait penyebab autisme pada anak masih belum diketahui secara pasti. Namun, riset-riset dari para ahli medis menemukan beberapa hipotesis mengenai penyebab autisme.

1. Faktor Genetik (Keturunan)

penyebab kelainan autisme pada anak
Ilustrasi anak dengan kelainan autisme (medicalnewstoday.com)

Faktor genetik diyakini memiliki peranan besar bagi penyandang autisme, meskipun hal ini tidak diyakini sepenuhnya.

Dikatakan, sekitar 2-18% orang tua dari anak penderita autisme berisiko melahirkan anak kedua dengan gangguan yang sama.

2. Jenis Kelamin

penyebab autisme pada anak
Ilustrasi anak laki-laki mengalami austime (indianexpress.com)

Dalam beberapa kasus autisme anak di Amerika Serikat, kelainan autisme 4 kali lebih sering ditemukan pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

Kemudian, autisme juga cenderung lebih banyak dialami anak-anak keturunan Eropa Amerika dibandingkan yang lainnya.

3. Ibu Hamil Konsumsi Obat Tertentu

faktor penyebab anak autis
Ilustrasi ibu hamil (Pexels/freestocks.org)

Kemungkinan anak mengalami autisme ketika di tengah masa pertumbuhan bisa jadi disebabkan oleh kebiasaan ibu saat sedang hamil.

Terlebih, jika ibu mengonsumsi obat-obatan tertentu yang mengandung asam valproat dan thalidomide (obat mual di pagi hari).

Di Amerika sendiri, obat-obatan yang mengandung thalidomide telah ditarik dari pasar karena banyaknya laporan bayi lahir cacat.

Namun, obat thalidomide kini diresepkan untuk mengatasi kelainan kulit kronis dan terapi pengobatan kanker.

4. Usia Ibu Hamil dan Kelahiran Prematur

faktor penyebab kelainan autisme pada anak sejak kecil
Ilustrasi seorang ibu sedang hamil (Pexels/Dominika Roseclay)

Usia ibu hamil bisa menjadi salah satu faktor penyebab autisme pada anak. Dalam arti, semakin tua usia memiliki anak, maka semakin tinggi risiko anak lahir menderita autisme.

Selain itu, bayi lahir prematur pada masa kehamilan 26 minggu atau kurang, berisiko memiliki kelainan autisme.

5. Kelahiran Kembar Identik

kembar identik penyebab anak autis sejak kecil
Ilustrasi anak kembar (Pexels/Edwin Ariel Vallad)

Riset yang dilakukan terhadap anak autis menunjukkan bahwa persentase kemungkinan dua anak kembar identik mengalami autisme yaitu sekitar 36-95%.

Hal tersebut dikarenakan anak kembar identik memiliki gen yang 100% sama.

Anggapan Lain Seputar Penyebab Autisme

mitos seputar penyebab autisme pada anak
Ilustrasi dua anak penyandang autis (autismawarenesscentre.com)

Ada dugaan bahwa kelainan autisme disebabkan oleh vaksin MMR (Mumps Measles Rubella) yang rutin diberikan kepada anak-anak.

Hal itu diawali dari penelitian yang dilakukan Andrew Wakefield pada tahun 1998. Dalam studi tersebut, disebutkan adanya hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.

Menurut studi, zat kimia bernama thimerosal yang digunakan untuk mengawetkan vaksin tersebut dikatakan mengandung merkuri.

Unsur merkuri itulah yang selama ini dianggap berpotensi menyebabkan autisme pada anak. Tapi, lagi-lagi tidak ada bukti kuat yang mendukung bahwa autisme disebabkan oleh pemberian vaksin.

Pasalnya, penggunaan zat thimerosal dalam pengawetan vaksin MMR telah dihentikan, namun angka autisme pada anak masih terbilang tinggi.

Menurut tinjauan dr. Tjin Willy di Alodokter, disebutkan bahwa tidak ada keterkaitan antara pemberian vaksin (terutama vaksin MMR) dengan penyebab anak menjadi autis.

Selama lebih dari satu dekade pun setelah penelitian Andrew Wakefield (1998), puluhan penelitian epidemiologis tidak menemukan bukti adanya hubungan antara vaksin MMR dengan penyebab autisme.

Justru dengan pemberian vaksin, anak akan terhindar dari infeksi, seperti campak atau gondongan (mumps).

Selain itu, kelainan autisme juga terbukti tidak terkait dengan konsumsi makanan yang mengandung gluten, atau konsumsi susu dan produk turunannya.

Diagnosa Autisme pada Anak

diagnosa autisme pada anak sejak kecil
Ilustrasi autisme pada anak (forumgrad.com)

Anak dengan autisme bisa saja terlihat normal pada tahun pertama maupun tahun kedua sejak kelahiran.

Para orang tua yang memiliki anak autis sering menyadari adanya keterlambatan dalam kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda, saat si kecil bermain dan berinteraksi dengan orang lain.

Anak-anak tersebut mungkin bisa sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan dari kelima inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan).

Perilaku-perilaku repetitif seperti mengepak tangan, menggoyangkan badan dan mengulang kata juga dapat ditemukan pada anak penderita autisme.

Selain itu, anak-anak dengan autisme mungkin punya berbagai masalah kesehatan yang berkaitan dengan makanan, menurut Academy of Nutrition and Dietetics.

Dalam beberapa kasus, mereka biasanya memiliki pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaannya.

Untuk lebih meyakinkan, diagnosa autisme pada anak bisa dilakukan dengan pemeriksaan kondisi tubuh seperti tinggi dan berat badan, hingga pemeriksaan tubuh secara general.

Alangkah lebih baik, segera periksakan juga kondisi anak ke dokter spesialis anak, ahli saraf dan tumbuh kembang, psikiater/psikolog, fisioterapis atau terapis bicara. 

Nantinya, sebelum mengetahui hasil diagnosa, akan dilakukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu.

Mulai dari pemeriksaan terhadap perilaku anak, pemeriksaan fisik dan panca indera anak. Lalu, pemeriksaan lanjutan (kromosom, EEG, MRI) dan pemeriksaan perkembangan anak seperti M-CHAT.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Rizka
Rizka

Rizka

Writer

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US