The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Kabar Baik! Studi Sebut Omicron Tak Menyebabkan Long COVID-19
Ilustrasi virus corona. (Freepik)
Health

Kabar Baik! Studi Sebut Omicron Tak Menyebabkan Long COVID-19

Jumat, 17 Juni 2022 20:00 WIB 17 Juni 2022, 20:00 WIB

INDOZONE.ID - Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 saat ini jadi perhatian karena telah menginfeksi diberbagai negara di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, subvarian omicron dinilai menjadi penyebab meningkatnya COVID-19.

Menurut para peneliti di King's College London, menggunakan data dari aplikasi studi Gejala COVID ZOE, menemukan bahwa varian omicron menimbulkan dampak long COVID-19 lebih rendah dibanding dengan varian Delta.

Long COVID-19 yang mencakup gejala berkepanjangan mulai dari kelelahan hingga kabut otak, yang dapat berlanjut selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Hal ini pula yang mendasari para peneliti untuk mencari tahu apakah Omicron menimbulkan dampak long COVID-19 atau tidak.

Dilansir Eastern Eye, studi dari King's diyakini sebagai penelitian akademis pertama yang menunjukkan Omicron tidak menimbulkan risiko long COVID-19.

Baca juga: Cegah Infeksi BA.4 dan BA.5, Satgas Imbau Penggunaan Prokes Kembali Digiatkan

Meski risiko long COVID-19 lebih rendah, tapi orang yang terinfeksi lebih banyak dari varian sebelumnya, sehingga absolut yang sekarang menderita lebih tinggi.

“Ini kabar baik, tapi tolong jangan hentikan layanan COVID Anda yang lama,” kata pemimpin peneliti Dr Claire Steves kepada Reuters.

Kantor Statistik Nasional Inggris mengatakan pada bulan Mei bahwa 438.000 orang di negara itu memiliki long COVID setelah infeksi Omicron, mewakili 24% dari semua pasien COVID.

Ia juga mengatakan risiko gejala yang tersisa setelah Omicron lebih rendah dibandingkan dengan Delta, tetapi hanya untuk orang yang divaksinasi penuh. Tidak ditemukan pula perbedaan statistik bagi orang yang sudah terima vaksin booster.

Dalam penelitian ini, 4,5% dari 56.003 orang selama puncak Omicron, yakni Desember 2021-Maret 2022 melaporkan long COVID-19. Sementara selama gelombang Delta, yakni Juni-November 2021 terdapat 10,8% dari 41.361 orang yang mengalami long COVID.

Sementara penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet pada hari Kamis, membandingkan Delta dan Omicron, Dr Steves mengatakan penelitian sebelumnya tidak menunjukkan perbedaan substansial dalam risiko long COVID antara varian lainnya.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Abul Muamar
Fitri
Abul Muamar

Abul Muamar

Editor
Fitri

Fitri

Writer

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US