Obat Buatan Dalam Negeri Masih Jarang Digunakan, Kenapa?
Ilustrasi penggunaan obat dalam negeri (NETDOCTOR)
Health

Obat Buatan Dalam Negeri Masih Jarang Digunakan, Kenapa?

Terungkap alasannya

Jumat, 21 Februari 2020 22:12 WIB 21 Februari 2020, 22:12 WIB

INDOZONE.ID - Ketersediaan bahan baku dalam negeri dianggap sudah mumpuni untuk mendukung produksi obat modern asli Indonesia (OMAI). Saat ini sudah ada produsen farmasi yang mengembangkan obat dari bahan baku dalam negeri. Contoh produknya adalah inlacin.

Inlacin merupakan obat diabetes berbahan baku bungur dan kayu manis yang didapatkan dari daerah Gunung Kerinci di Jambi. Obat tersebut telah teruji secara klinis dan memiliki efikasi yang sama dengan obat diabetes berbahan baku kimia seperti metformin.

Namun meskipun obat yang berasal dari bahan baku dalam negeri sudah diproduksi, penggunaannya belum begitu signifikan. Hal ini diungkapkan oleh Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dr Raymond Tjandrawinata, perusahaan farmasinya telah berkecimpung dalam produksi obat yang menggunakan bahan baku dalam negeri. Riset sudah dilakukan sejak 2005 dan obat sudah tersertifikasi Badan POM. Sayangnya baru  sedikit yang dipakai oleh dokter.

Alasan obat dalam negeri
Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dr Raymond Tjandrawinata (Indozone/Maria Adeline)



"Para dokter masih enggan menggunakan obat dari herbal. Mungkin karena waktu pendidikan kedokteran tidak disinggung atau sosialisasi dari kami dan pemerintah kurang," ujar Raymond saat ditemui dalam kunjungan pabrik, Jumat (21/2/2020) di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Dirinya menuturkan sudah ada beberapa langkah yang dilakukan untuk memperkenalkan OMAI kepada para dokter. Mulai dari mengadakan simposium, seminar, dan lainnya. Namun tetap keengganan para dokter menggunakan obat itu dalam tata laksana medis masih ada.



"Dokter juga enggan melakukan riset dan penggunaan obat dari bahan baku dalam negeri. Belum lagi masyarakat Indonesia enggak banyak yang mau ikut uji klinis. Jadi walaupun Menkes bilang pakai obat ini, kalau enggak familiar ya masih enggan," ucap Raymond.

Oleh karenanya, Raymond mengatakan perusahaannya menggunakan cara masuk ke mainstream. Perusahaan telah bekerja sama dengan sejumlah dokter spesialis terkait penggunaan obat yang bahan bakunya berasal dari dalam negeri.



"Kalau mainstream artinya obat yang dihasilkan digunakan oleh para scientific, itu dihargai oleh para dokter. Ini yang harus terjadi, penggunaan secara mainstream, dipakai besar-besaran di seluruh Indonesia," pungkas Raymond.

TAG
Dinno Baskoro
Maria Adeline Tiara Putri

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU