The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Peneliti Ungkapkan Karbon Dioksida di Udara Tertinggi Sejak Pengukuran
Ilustrasi perubahan iklim. (photo/Ilustrasi/Pexels/Pixabay)
Fakta Dan Mitos

Peneliti Ungkapkan Karbon Dioksida di Udara Tertinggi Sejak Pengukuran

Selasa, 08 Juni 2021 15:03 WIB 08 Juni 2021, 15:03 WIB

INDOZONE.ID - Meskipun terdapat pengurangan besar-besaran dalam perjalanan dan banyak kegiatan komersial selama berbulan-bulan pada awal pandemi, jumlah karbon di atmosfer bumi pada Mei telah capai tingkat tertinggi dalam sejarah modern, sebuah indikator global yang diluncurkan pada 7 Juni menunjukkan. 

Para ilmuwan National Oceanic and Atmospheric Adminstration (NOAA) dan Scripps Institution of Oceanography di University of California San Diego, mengatakan temuan itu, berdasarkan jumlah karbon dioksida di udara di stasiun cuaca NOAA di Mauna Loa di Hawaii, adalah tertinggi sejak pengukuran dimulai 63 tahun lalu. 

Pengukuran,yang disebut Keeling Curve setelah Charles David Keeling, peneliti pun mulai melacak karbon dioksida di sana pada 1958, menjadi tolak ukur global untuk tingkat karbon atmosfer. Instrumen yang bertengger di observatorium puncak gunung NOAA mencatat karbon dioksida sekitar 419 bagian per juta bulan lalu, lebih dari 417 bagian per juta pada Mei 2020. 

Karena karbon dioksida adalah pendorong utama perubahan iklim, temuan menunjukkan bahwa pengurangan pemakaian bahan bakar fosil, penggundulan hutan, dan praktik lain yang mengarah pada emisi karbon harus menjadi prioritas utama untuk menghindari konsekuensi bencana. Melihat hal itu, Pieter Tans selaku ilmuwan dengan Pemantauan Global NOAA Laboratorium beri komentarnya.

“Kami menambahkan sekitar 40 miliar metrik ton polusi CO2 ke atmosfer per tahun,” ungkap Tans. 

"Itu adalah gunung karbon yang kami gali dari Bumi, bakar, dan lepaskan ke atmosfer sebagai CO2 - tahun demi tahun." katanya. 

Jumlah karbon di udara sekarang telah sama banyaknya dengan sekitar 4 juta tahun yang lalu, ketika permukaan laut mencapai 78 kaki lebih tinggi dari sekarang dan suhu rata-rata 7 derajat Fahrenheit yang lebih tinggi dari sebelumnya. 

Terlepas dari pengucian pandemi, para ilmuwan tidak bisa melihat penurunan jumlah keseluruhan karbon di atmosfer sebagian karena kebakaran hutan, yang juga melepaskan karbon, serta perilaku alami karbon di atmosfer.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fernando Sutanto
JOIN US
JOIN US