The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Jadi Profesi Tertua, Bagaimana Sejarah Pelacuran Menjadi Marak di Indonesia?
Ilustrasi sejarah pelacuran. (History)
Fakta Dan Mitos

Jadi Profesi Tertua, Bagaimana Sejarah Pelacuran Menjadi Marak di Indonesia?

Rabu, 06 Juli 2022 10:00 WIB 06 Juli 2022, 10:00 WIB

INDOZONE.ID - Pelacuran adalah kisah yang cukup menarik dibahas, dimana banyak yang menganggap jika aktivitas seksual yang satu ini menjadi pekerjaan paling tua di muka Bumi.

Kisah pelacuran banyak mengangkat dari segi sisi, mulai dari roman hingga cinta yang terlarang. Namun, jika dikulik dari sisi sejarahnya, jalur perdagangan masa kuno menjadi pemegang peranan penting dalam dunia pelacuran.

Dilansir History, penyebaran aktivitas pelacuran bermula dari jalur perdagangan rempah. Dimana kapal laut yang bebrulan-bulan mengarungi samudera singgah ke pelabuhan untuk mengisi logistik.

Baca Juga: Sewa Wanita Penghibur Tapi Ogah Bayar, Pria di Jakarta Timur Ini Tewas Dianiaya

Selain memenuhi logistik, para pelaut terdahulu juga ingin memenuhi hasrat manusiawinya dengan mencari wanita penghibur. Seorang pelaut tentunya memerlukan kasih sayang, melepas penat dari aktivitas yang tak ada hentinya di atas kapal.

Berdasarkan hal tersebutlah, para pelaut tentu akan menyewa pelacur untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Selain itu, melalui pelacuran para pelaut terkadang berbagi cerita tentang apa saja yang ia alami dan lakukan selama hidupnya.

Sementara bagi pelacurnya sendiri, para wanita tidak menawarkan diri kepada para pelaut. Melainkan mereka diambil paksa hingga digoda-goda oleh para pelaut yang sudah tinggi akan nafsu.

Berangkat dari sinilah, mengapa akhirnya para wanita banyak yang melakukan pelacuran menjadi pekerjaan. Para wanita putus asa dan merasa mereka hanya akan menjadi budak para pria penguasa.

Pada abad ke-18, Batavia menjadi saksi bagaimana wanita dijadikan pelacur lantaran diperbudak oleh para pelaut dan juga penjajah yang menginjakkan kakinya di Nusantara.

Namun tidak sembarangan, pelacuran di Batavia memiliki hierarki. Dimana yang terletak di perbatasan benteng kota, para wanita dijadikan pelacur khusus untuk orang Belanda.

Sementara yang diluar benteng, seperti di pelabuhan dan sekitarnya memiliki hierarki yang rendah. Hal inilah yang akhirnya memunculkan rumah bordil bagi wanita Nusantara yang dikelola oleh Belanda untuk memenuhi hasrat para tentaranya saat menjajah.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Abul Muamar
Abdul Fattah
TERKAIT DENGAN INI
JOIN US
JOIN US