The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Peneliti: Manusia Bisa Berpikir Tanpa Menggunakan Bahasa
Ilustrasi pria berpikir. (Freepik/@nakaridore)
Fakta Dan Mitos

Peneliti: Manusia Bisa Berpikir Tanpa Menggunakan Bahasa

Beradasarkan hasil penelitian.

Kamis, 23 Juni 2022 16:42 WIB 23 Juni 2022, 16:42 WIB

INDOZONE.ID - Manusia sendiri telah mengekspresikan pikiran dengan bahasa selama puluhan atau mungkin ribuan tahun. Para ilmuwan pernah berspekulasi bahwa yang membedakan manusia dan hewan adalah kemampuan bahasanya.

Lantas, bagaimana para ilmuwan mempelajari hubungan antara pikiran dan bahasa? Mungkinkah manusia berpikir tanpa bahasa atau kata-kata?

Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa manusia bisa berpikir tanpa menggunakan bahasa. Menurut seorang psikolog penelitian University of Nevada, beberapa orang tidak memiliki monologg batin, yang berarti mereka tidak berbicara pada diri sendiri.

Penelitian lain juga mengungkapkan bahwa orang tidak menggunakan wilayah bahasa di otak mereka saat mengerjakan soal logika tanpa kata.

Menurut ahli Saraf dan peneliti di Insititute McGovern MIT, salah satu klaim yang paling menonjol adalah bahwa bahasa pada dasarnya memungkinkan kita untuk memikirkan pemikiran yang lebih kompleks.

Baca juga: Pintar dan Orang Jerman, Albert Einstein Tak Mau Bekerja untuk Adolf Hitler, Kenapa Ya?

Menurut Hurlburt, mempelajari bahasa dan kognisi sangat sulit, sebagian penyebabnya adalah karena sangat sulit untuk dijelaskan.

"Orang-orang menggunakan kata-kata yang sama untuk menggambarkan pengalaman batin yang sangat berbeda," kata Hurlburt, dikutip dari Live Science.

Misalnya, seseorang mungkin menggunakan kata-kata serupa untuk menceritakan pemikiran visual tentang parade gajah merah muda seperti yang mereka lakukan untuk menggambarkan monolog batin mereka.

Menurut Hulburt, kebanyakan orang tidak tahu bahwa mereka terlibat dalam pemikiran yang tidak disimbolkan.

Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian laboratorium Fedorenko, jika bahasa sangat penting untuk penalaran, maka harus ada beberapa tumpang atindih dalam sumber dayasaraf saat seseorang terlibat penalaran.

Dengan kata lain, jika bahasa penting untuk berpikir, daerah otak yang terkait dengan pemrosesan bahasa harus aktif setiap kali seseorang menggunakan logika untuk memecahkan masalah.

Untuk menguji klaim ini, Fedorenko melakukan penelitian di mana mereka memberi peserta masalah logika bebas kata untuk dipecahkan, seperti teka-teki sudoku.

Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa daerah otak peserta yang terkait dengan bahasa tidak menyala/aktif saat mereka memecahkan masalah. Artinya, mereka memecahkan masalah di pikirannya tanpa kata-kata.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fahrizal Daulay
Dina
Dina

Dina

Writer
JOIN US
JOIN US