The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Penelitian: Pemakaian Media Sosial di Indonesia Berkontribusi pada Kesehatan Mental
Media sosial. (photo/Ilustrasi/Pexels/Tracy Le Blanc)
Fakta Dan Mitos

Penelitian: Pemakaian Media Sosial di Indonesia Berkontribusi pada Kesehatan Mental

Kamis, 28 Oktober 2021 15:48 WIB 28 Oktober 2021, 15:48 WIB

INDOZONE.ID - Baru-baru ini, terdapat sebuah penelitian dari University of Manchester mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial berkontribusi pada kesehatan mental yang buruk di Indonesia. Rincian penelitian ini telah dipublikasikan di International Journal of Mental Health and Addiction dengan judul "A Tool to Help or Harm? Online Social Media Use and Adult Mental Health in Indonesia".

Peneliti dari studi ini telah meneliti spesifik penggunaan media sosial pada kesehatan mental di negara berkembang. Efek pemakaian dari media sosial daring pada kesehatan mental individu memang masih diperdebatkan. 

Pada penelitian ini, peneliti pun mengkaji pengaruh dari media sosial daring terhadap kesehatan mental orang dewasa di Indonesia. Hanya saja, peneliti secara khusus mengamati Facebook, Twitter, dan chat. 

Para peneliti kemudian melakukan analisis data yang berasal dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) 2014, dengan melakukan survei pada 22.423 individu berusia 20 tahun ke atas di 9.987 rumah tangga dan 297 kabupaten di Indonesia. 

Temuan penelitian ini menemukan bahwa penggunaan media sosial membahayakan kesehatan mental orang dewasa. Peningkatan satu standar deviasi dalam penggunaan media sosial oleh orang dewasa pun dikaitkan dengan peningkatan 9% dalam skor CES-D, yang adalah alat ukur untuk gejala depresi. 

Mereka juga menjelaskan bahwa efeknya kuat sehubungan dengan serangkaian luas kovariat individu, rumah tangga, komunitas, dan distrik. 

Penemuan ini menunjukkan bahwa kebijakan yang menawarkan saran pemakaian media sosial daring secara bijaksana diperlukan untuk melindungi orang dewasa dari efek berbahaya media sosial daring pada kesehatan mental mereka. 

"Kami ingin melihat pejabat kesehatan masyarakat berpikir kreatif tentang bagaimana kami dapat mendorong warga untuk beristirahat dari media sosial atau menyadari konsekuensi negatif yang dapat ditimbulkannya pada kesehatan mental," ungkap Tampubolon dalam perilisan University of Manchester. 

Peneliti juga mengatakan bahwa tingkat ketidaksetaraan yang tinggi di Indonesia yang disorot media sosial telah menyebabkan kecemburuan dan kebencian. Ini terjadi ketika orang lain melihat gambar yang sudah diunggah ke media sosial dan menunjukkan kesan bahagia dan positif mengenai bagaimana orang lain hidup.

Artikel Menarik Lainnya:

JOIN US
JOIN US