The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

 Shell Shock, Sindrom Gangguan Syaraf Akibat Perang Dunia I
Ilustrasi para prajurit yang mengalami shell shock. (en.wikipedia.org)
Fakta Dan Mitos

Shell Shock, Sindrom Gangguan Syaraf Akibat Perang Dunia I

Sabtu, 15 Februari 2020 10:00 WIB 15 Februari 2020, 10:00 WIB

INDOZONE.ID - Perang Dunia I menyisakan banyak korban dan mimpi buruk mengeringan hingga sebuah kondisi traumatis yang disebut dengan 'shell shock'. 

Shell shock dapat dikatakan sebagai sindrom gangguan syaraf akibat Perang Dunia I (1914-1918) yang pertama kali disebutkan di media pada tahun 1915.

Banyak dari penderita kondisi ini adalah para tentara yang menjadi saksi konflik perang yang diperkirakan lebih dari 80.000 orang. 

Pertempuran terus-menerus dan ledakan-ledakan berat membuat mereka merasa selalu panik dan trauma saat mendengar suara keras, tembakan atau suara lain yang serupa hingga mengalami susah tidur. 

Shell sock mulai muncul pada tahap awal perang yang dikaitkan dengan cedera pada kepala yang ditandai dengan sakit kepala, amnesia, tinnitus (mendengar hal yang tidak ada) dan tremor. 

Konsep shock shell sendiri tidak didefinisikan dengan jelas satu sisi dapat diartikan sebagai cedera fisik namun dapat juga dinilai sebagai cedera psikologis. 

Namun, beberapa orang yang menderita shock shell malah diadili bahkan dieksekusi karena dianggap desersi dan pengecut. 

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Zal
Reka
Zal

Zal

Editor
Reka

Reka

Writer

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US