The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Banyak Masyarakat yang Percaya Hoaks Covid dr Lois, Kok Bisa?
Ilustrasi penyebaran hoax di sosial media. (Istimewa)
Fakta Dan Mitos

Banyak Masyarakat yang Percaya Hoaks Covid dr Lois, Kok Bisa?

Korban broadcast medsos.

Rabu, 21 Juli 2021 22:51 WIB 21 Juli 2021, 22:51 WIB

Sejak kemunculannya di media melalui pernyataan kontroversialnya saat menjadi bintang tamu di acara Hotman Paris Show, nama dr Lois Owien langsung menarik perhatian publik. Hal ini dikarenakan ketdakpercayaan dia terhadap Covid-19 dan keyakinannya bahwa banyak yang meninggal dan dimakamkan dengan prokes Covid, bukan meninggal karena terpapar virus corona melainkan karena interaksi antar obat.

Ia dengan terang-terangan dan dengan penuh percaya diri mengklaim bahwa ia tidak percaya covid dengan menantang agar rumah sakit membuka data-data obat yang diberikan kepada para pasien yang meninggal. Ia yakin, obat-obat yang dikonsumsi oleh para pasien tersebut yang mengakibatkan mereka meninggal dunia, bukan karena Covid-19.

"Pertanyaan pertama saya, ibu sebagai dokter percaya gak ada corona?" tanya Hotman selaku host adlam acara tersebut.

"Gak percaya pak," jawabnya santai.

Hotman lalu kembali melanjutkan pertanyaan dengan meminta tanggapan dari dr Lois, apakah yang meninggal lebih dari 50 ribu orang dimana dimakamkan dengan prosedur Covid, meninggal karena virus corona atau bukan.

"Bukan, (tapi karena) interaksi antar obat. Kalau buka data di rumah sakit, pemberian obatnya lebih dari enam macam," jelasnya.

Sontak, jawabannya tersebut langsung mengundang banyak reaksi tidak hanya dari host tapi juga dari masyarakat atau warganet setelah video tersebut diunggah ke sosial media dan seketika menjadi viral. Nama dr Lois disebut-sebut hampir disetiap percakapan soal Covid-19. Meski banyak yang menganggap pernyataan dr Lois itu tidak berdasar atau hoaks, namun tidak sedikit yang percaya dan mendukung pernyataan.

Misalkan netizen di Facebook saat mengomentari berita terkait dr Lois, mereka maypritas percaya dan mendukung pernyataan tersebut. Ada yang berterima kasih atas informasi yang sudah diberikan oleh dr Lois dam menyebut jika ini adalah isyarat bahwa masyarakat tidak perlu terlalu panik karena yangmeninggal tidak seluruhnya karena corona melainkan banyak faktor lain dan kebanyakn penyakit bawaan, seraya mendoakan agar dr Lois selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

hoaks

Kiri: Dokter Lois Owien (jaket kuning) di Mapolda Metro Jaya, Jakarta / Kanan: Komentar netizen di facebook yang mendukung dr Lois. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

Ada pula yang sampai mengagung-agungkan dan menyebut bahwa dr Lois adalah calon menteri kesehatan pada 2024 nanti dimana Anies Baswedan yang menjadi presidennya. Dan juga sangat salut dengan dr Lois karena berani berani menungkapkan hal yang benar dan meyakinkan masyarakat. Tentunya bagi mereka yang percaya bahwa Covid-19 ini adalah konspirasi, tentunya akan senang dengan adanya pernyataan-pernyataan seperti yang dilontarkan dr Lois Owien ini. Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto akui sampai saat ini masyarakat masih mempercayai hoaks tentang Covid-19 yang disampaikan oleh dokter Lois Owien di beberapa platform media sosial.

Hoax dr Lois Memakan Korban Jiwa

Pernyataan terkait interaksi obat yang disampaikan oleh dr Lois Owien akhirnya memakan korban jiwa.  Salah seorang penderita Covid-19 yang percaya dengan ucapan dr Lois dan ia menolak untuk mengkonsumsi obat-obatan yang pada akhirnya ia meninggal dunia. Hal ini diungkapkan oleh seorang warga Depok bernama Helmi Indra yang ia tuangkan melalui twitter dengan akun @HelmiIndraRP

Ayahnya bertempat tinggal di Tegal, Jawa Tengah sering membaca tulisan-tulisan atau pesan-pesan menyesatkan mengenai Covid-19 yang tersebat di media sosial. Bahkan pada hari kedua ayahnya dinyatakan positif Covid-19, ia masih menerima dan membaca informasi broadcast di grup whatsapp (WA) yang berisi pendapat seorang dokter perempuan yang kontroversial tentang Covid-19.

“Hoax berperan besar yang membuat Papah akhirnya kalah melawan Covid. Papah meninggal karena percaya dengan berita hoax yang tersebar di sosial media. Entah di di grup WA , Facebook, Instagram , Twitter ataupun dari sumber sumber lain.”

“Mulai dari hoax setiap masuk rumah sakit akan dicovid kan, interaksi obat membuat meninggal, vaksin ada kandungan babi dan dari China, dan banyak lainnya. Gara gara sering bersliweran berita ini di grup WA dan Facebook  Papah  jadi percaya hoax-hoax ini.”

“Akibatnya Papah ga mau divaksin Karena percaya hoax ini. Padahal vaksin bisa membantu meredakan gejala Ketika terpapar Covid. Ketika akhirnya terpapar pun ga mau minum obat yang seharusnya diminum karena percaya berita hoax tentang interaksi obat dapat membunuh #lawanhoaxcovid19,” tulisnya.

hoaks

Postingan Helmi yang menceritakan ayahnya meninggal dunia karena Covid-19 dimana hoaks berpesarn besar. (Twitter/@HelmiIndraRP)

Cerita dari Helmi ini mungkin juga dialami banyak orang. Dimana, tidak sedikit keluarga terdekat mereka lebih percaya dengan nfo-info yang tersebar melalui broadcast medsos ketimbang mencari tahu melalui sumber yang lebih bisa terpercaya. Bahkan ada yang seperti menunggu “fakta-fakta” dan teori konspirasi baru terkait corona ini dan mengabaikan apa yang terjadi di sekitarnya dimana sudah banyak di lingkaran terdekatnya yang menjadi korban karena Covid-19 ini.

Kenapa Masyarakat Mudah Percaya Hoaks Covid-19?

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia mencatat 1.723 sebaran hoaks menyangkut soal vaksin dan Covid-19 sepanjang Januari hingga Juni 2021 di berbagai platform media sosial, terbanyak ditemukan di Facebook. Lihat saja seperti yang disebutkan di atas, bagaiama reaksi warganet Facebook ketika membaca berita terkait pernyattaan dr Lois yang mana mereka begitu semangat mendukungnya.

Menurut laporan terbaru yang dikeluarkan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute, teori konspirasi global Covid-19, seringkali dikaitkan dengan sentimen anti-vaksin, anti Pemerintah Indonesia dan anti-China. Penelitian yang berfokus pada pengguna TikTok di Indonesia tersebut juga menemukan kebanyakan pesan disebarkan oleh mikro-influencer keagamaan.

Profesor di University of Amsterdam Dr Yatun Sastramidjaja yang merupakan salah satu penulis laporan tersebut, mengatakan tren ini mengkhawatirkan. Alasan pertama, karena menunjukkan kegagalan kronis Pemerintah untuk mendapatkan kepercayaan publik. Ada pula ketidakpercayaan yang sudah lama soal motif pemerintah, yang terlihat memprioritaskan kepentingan elit daripada kepentingan masyarakat umum. Kedua, dalam iklim ketidakpercayaan, kebingungan, dan ketakutan yang berkembang, mikro-influencer religius dapat menawarkan rasa perlindungan kepada pengikut mereka, dengan cara memelihara keyakinan pada kekuatan agama yang melindungi dan rencana yang lebih besar dari Yang Maha Kuasa.

Kita tentu sering lihat atau membaca postingan bahwa segala hal di dunia ini sudah diatur oleh Alla SWT termasuk soal kematian, olehnya itu mereka menolak segala macam fakta di lapangan terkait Covid-19 ini dengan alasan bahwa kalau sudah waktunya mati, pasti akan amti jadi kenapa harus takut dengan virus corona. Ada pula argumen yang menyebut, ini semua adalah teori konspirasi agar umat Islam terpecah bela dengan melarang beribadah di masjid atau menjaga jarak saat salat berjamah di masjid. Asumsi dan pendapat lain juga masih sangat banyak terutama jika dikaitkan dengan agama.

Fenomena Hoaks di Sosial Media dalam Pandangan Teori Kritis Habermas

Di era tekonologi informasi seperti saat ini, sudah mulai banyak media sosial yang mengisi setiap kehidupan masyarakat di dunia digital. Dalam hal ini mkemajuan teknologi akan membawa dapak yang mempengaruhi kehidupan masyarakat, mulai dari dampak baik dan dampak buruk yang akan datang. Tak hanya itu, di dalamnya juga sudah tersedia banyak sekali konten digital seperti media sosial yang ramai di perbincangkan hingga mengundang berita-berita yang tidak benar.

Seorang filsuf dan sosiolog dari Jerman, Jurgen Habermas berpendirian bahwa teori kritis yang terdahulu telah gagal untuk menjelaskan konsepsi rasio yang lebih luas. Solusi yang ditawarkan Habermas adalah mengubah penekanan filsafat dari hubungan subjek-objek menjadi komunikasi intersubyektif. Dalam bukunya Knowledge and Human Interest ia menyatakan bahwa eksistensi masyarakat tergantung pada dua aksi, yaitu aksi instrumental (kerja) dan interaksi sosial (komunikatif), kedua bentuk aksi ini membentuk asas kepentingan manusia yang berbeda-beda. Pada gilirannya akan menggiring pembentukan jenis pengetahuan yang berbeda sama sekali.

Mulai maraknya berita-berita bohong yang bermunculan di abad 20-an saat itu, kata “hoax” baru mulai digunakan sekitar tahun 1808. Kata hoax di lansir dari kata hocus yang berarti mengelabuhi, dan kata ini juga dianggap mirip dengan kata yang dipakai si sebuah mantra dalam pertunjukan sulap, yang mana di balik permainan sulap adalah tipuan-tipuan yang direncanakan. Hingga dari generasi ke generasi sampai saat ini, kata hoax selalu berkitan dnegan adanya penyebaran berita atau informasi palsu yang membuat kehebohan dalam masyarakat baik itu secara langsung atau tidak langsung.

Begitu mudahnya mengakses berita atau informasi yang akan di baca oleh pengguna media sosial, membuat masyarakat buta akan mendapatkan informasi yang benar. Hingga kini, dari penjuru dunia manapun tetap dihebohkan dengan berita atau informasi palsu khususnya terkait Covid-19 ini. Kemunculan dr Lois benar-benar membuat sensasi yang luar biasa bahkan sudah memakan korban. Ini lagi-lagi dijelaskan Hebermas pada akhirnya info-info di sosial media akan menggiring pembentukan jenis pengetahuan yang berbeda sama sekali.

Dalam mengguanakan media sosial yang ada di dunia maya, tak luput dari pemahaman penggunanya dalam berbaha komunikasi yang baik dan benar. Memberikan sebuah makna atau pesan dalam komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda. Dalam bahasa inggris pesan biasanya diterjemahkan dengan kata message, content, atau information.

Olehnya itu, peran serta orang-orang terdekat yang mungkin punya pengetahuan lebih dengan mendapatkan informasi-informasi akurat terkait dengan Covid-19 ini, sangat dibutuhkan. Menjaga orang-orang di sekitar agar tidak termakan hoaks tentunya bukan pekerjaan yang mudah, namun mau tidak mau itu harus dilakukan agar tidak ada lagi orang yang termakan dengan hoaks dan informasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fahmy Fotaleno
JOIN US
JOIN US