The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Peneliti Perkirakan dan Khawatir Bahwa Hikikomori Meningkat Setelah Pandemi COVID-19
Tampilan orang yang mengisolasi diri selama pandemi COVID-19. (photo/Ilustrasi/Pexels/cottonbro)
Fakta Dan Mitos

Peneliti Perkirakan dan Khawatir Bahwa Hikikomori Meningkat Setelah Pandemi COVID-19

Selasa, 23 Februari 2021 15:36 WIB 23 Februari 2021, 15:36 WIB

INDOZONE.ID - Langkah-langkah pembatasan sosial seperti lockdown, karantina wilayah dan sejenisnya di masa pandemi COVID-19 ini dikhawatirkan bakal perbanyak jumlah orang-orang yang hidup dengan hikikomori. Tidak hanya di Jepang, tetapi juga di negara-negara lain di seluruh dunia. 

Hikikomori sendiri merupakan penarikan diri yang ekstrem dilakukan oleh seseorang dengan hanya menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam satu ruangan selama minimal enam bulan dan bahkan seterusnya. Masalah penarikan diri dari interaksi sosial atau mengisolasi diri ini banyak ditemui pada anak-anak muda Jepang. 

Masalah penarikan sosial yang ekstrem pada anak-anak muda Jepang ini pertama kali mendapatkan perhatian selama tahun 1990-an. Melihat hal itu, Maki Rooksby dan Hamish J. McLeod dari University of Glasgow dan Tadaaki Furuhashi dari Nagoya University memberikan komentarnya.

“Ini adalah periode ketika Jepang mengalami "zaman es" ekonomi, yang membuat banyak anak muda kesulitan untuk mencapai tujuan mereka,” ungkap mereka dari laman The Conversation. 

Banyak yang merespon zaman es ekonomi di Jepang itu dengan bersembunyi untuk sembunyikan rasa malu yang mereka rasakan. Sebagian dari mereka bahkan tidak kunjung muncul kembali dari persembunyian mereka. Istilah dari hikikomori sendiri berasal dari kata kerja hiki yang artinya menarik dan komori yang berarti di dalam. 

Di dalam jurnal World Psychiatry, ketiga peneliti itu juga pernah tulis bahwa sebelum pandemi COVID-19, Kantor Kabinet Jepang prakirakan terdapat lebih dari 1,1 juta orang dengan hikikomori di Jepang. Dan sekarang terdapat peningkatan pengakuan ciri-ciri hikikomori di berbagai negara dan budaya lain. 

Hasil penelitian mereka menunjukkan pengalaman tramuatis dari rasa malu dan kekalahan biasanya dilaporkan sebagai penyebab hikikomori dalam lintas budaya ini. Oleh karena itu, para peneliti memprediksi sekaligus mengkhawatirkan bahwa jumlah orang-orang hikikomori akan bertambah selama dan setelah pandemi COVID-19 ini.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
JOIN US
JOIN US