The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Bukan Hoaks, Kasus Infeksi Deltacron (Delta-Omicron) Beneran Ada, Ini Faktanya
Ilustrasi COVID-19 (Pixabay)
Fakta Dan Mitos

Bukan Hoaks, Kasus Infeksi Deltacron (Delta-Omicron) Beneran Ada, Ini Faktanya

Sabtu, 12 Maret 2022 14:54 WIB 12 Maret 2022, 14:54 WIB

INDOZONE.ID - Ilmuwan baru-baru ini telah menemukan adanya kasus infeksi dari varian COVID-19 terbaru yang menggabungkan mutasi dari Omicron dan Delta. Varian yang secara tidak resmi disebut Deltacron itu telah ditemukan di Eropa dan AS.

Seperti dilansir Live Science, keberadaan Deltacron dikonfirmasi setelah dilakukan pengurutan genom oleh para ilmuwan di IHU Méditerranée Infection di Marseille, Prancis terhadap kasus yang ditemukan di sejumlah
wilayah di Prancis.

Kasus infeksi Deltacron juga ditemukan di Denmark, Belanda dan Inggris. Selain itu, dua kasus juag telah diidentifikasi di AS oleh perusahaan riset genetika yang berbasis di California, Helix.

Varian yang disebut hibrida itu muncul melalui proses yang disebut rekombinasi yaitu ketika dua varian virus menginfeksi pasien secara bersamaan, bertukar materi genetik untuk menciptakan keturunan baru.

Para ilmuwan mengatakan bahwa 'tulang punggung' varian Deltacron berasal dari varian delta, sedangkan protein lonjakannya, yang memungkinkan virus memasuki sel inang berasal dari omicron.

"Kami telah mengetahui bahwa peristiwa rekombinan dapat terjadi, pada manusia atau hewan, dengan berbagai varian #SARSCoV2 yang beredar," tulis Dr. Soumya Swaminathan, kepala ilmuwan di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam cuitannya pada Selasa (8/3/2022).

Swaminathan mengatakan bahwa varian tersebut perlu diteliti lebih mendalam untuk sifat virus ini tersebut.

Maria Von Kerkhove, pemimpin teknis COVID-19 untuk WHO, mengatakan dalam konferensi pers bahwa sejauh ini para ilmuwan belum melihat adanya perubahan dalam tingkat keparahan varian baru dibandingkan dengan varian sebelumnya, tetapi banyak penelitian ilmiah sedang berlangsung.

"Sayangnya, kami berharap melihat rekombinan karena inilah yang dilakukan virus. Mereka berubah seiring waktu," tambah Von Kerkhove.

"Kami melihat tingkat sirkulasi yang sangat intens dari SARS-Cov-2. Kami melihat virus ini menginfeksi hewan dengan kemungkinan menginfeksi manusia lagi," katanya.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
M Fadli
Nanda
M Fadli

M Fadli

Editor
Nanda

Nanda

Writer
JOIN US
JOIN US