The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Studi Baru Menemukan Bukti Uap Air untuk Pertama Kalinya di Satelif Jupiter Ganymede!
Satelit Jupiter Ganymede. (photo/Dok. Wikipedia)
Fakta Dan Mitos

Studi Baru Menemukan Bukti Uap Air untuk Pertama Kalinya di Satelif Jupiter Ganymede!

Jumat, 30 Juli 2021 13:44 WIB 30 Juli 2021, 13:44 WIB

INDOZONE.ID - Di langit tipis bulan Jupiter Ganymede, satelit terbesar di tata surya, para astronom untuk pertama kalinya telah mendeteksi bukti uap air, sebuah studi baru menemukan. Penemuan ini bisa menjelaskan atmosfer berair serupa yang mungkin selimuti benda-benda es lainnya di tata surya dan sekitarnya. Hal ini diungkapkan oleh para peneliti. 

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa Ganymede, yang lebih besar dari Merkurius dan Pluto, dan hanya sedikit lebih kecil dari Mars. Tapi, bulan Jovian sangat dingin sehingga air di permukaannya membeku. Setiap air cair yang dimiliki Ganymede akan mengintai sekitar 100 mil di bawah keraknya. 

Pekerjaan sebelumnya telah menunjukkan bahwa es dalam permukaan Ganymede dapat berubah dari padat langsung jadi gas, melewatkan bentuk cair, sehingga uap air bisa membentuk bagian dari atmosfer tipis bulan raksasa. Tetapi, bukti air ini telah terbukti sulit dipahami. 

Dalam studi baru, para peneliti menganalisis data lama dan baru Ganymede dari Teleskop Luar Angkasa Hubble NASA. Pada 1998, Hubble pun menangkap gambar ultraviolet pertama dari Ganymede, termasuk dengan gambar auroranya, versi bulan raksasa dari cahaya utara dan selatan Bumi. 

Sinyal ultraviolet yang terdeteksi di pita aurora ini menunjukkan adanya molekul oksigen, masing-masing terbuat dari dua atom oksigen, yang dihasilkan ketika partikel bermuatan mengikis permukaan es Ganymede. Tetapi, berapa emisi ultraviolet ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dari atmosfer oksigen molekuler murni. 

Para ilmuwan pun fokus pada bagaimana suhu permukaan dari Ganymede sangatlah bervariasi sepanjang hari, dengan suhu tertinggi sekitar minus 123 derajat Celcius pada siang hari di khatulistiwa dan suhu terendah yang mencapai minus 193 derajat Celcius. 

"Uap air di atmosfer sangat cocok dengan data tersebut," kata pemimpin penulis studi Lorenz Roth, seorang ilmuwan planet di KTH Royal Institute of Technology di Stockholm, kepada Space.com.

"Temuan ini menunjukkan bahwa uap air benar-benar ada di atmosfer benda es di luar tata surya," kata Roth. 

"Sekarang kita mungkin melihatnya di lebih banyak tempat." jelasnya.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fernando Sutanto

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US