Lizzie Borden, Wanita yang Membunuh Orang Tuanya dengan Kapak
Sosok Lizzie Borden (Wikipedia)
Fakta Dan Mitos

Lizzie Borden, Wanita yang Membunuh Orang Tuanya dengan Kapak

Namun lolos dari hukuman.

Sabtu, 15 Februari 2020 13:11 WIB 15 Februari 2020, 13:11 WIB

INDOZONE.ID - Siapa yang menyangka wanita sopan, aktif di gereja, dan mengajar di Sekolah Minggu, namun mampu dengan keji membunuh ayah dan ibu tirinya dengan kapak berkali-kali. Ia adalah Lizzie Borden, wanita pembunuh sadis namun tak pernah dihukum atas kekejiannya.

Berdasarkan buku 'The Legend' karya J.D. Rasz, peristiwa ini terjadi di sebuah rumah di Second Street 92 di Fall River, Massachussets di tahun 1892 silam. Keluarga Borden yang terdiri dari Andrew J. Borden dan istrinya Abby Durfee Borden, Emma Borden, dan Lizzie Borden. 

Rumah kediaman keluar Borden
Rumah kediaman keluar Borden (Wikipedia)

Emma dan Lizzie merupakan anak dari hasil perkawinan Andrew dan istri pertamanya, Sarah yang sudah meninggal. Setelah Andrew menikah lagi, hubungan antara Abby ibu tiri dan anak-anak Andrew aneh dan kaku.

Andrew yang pemarah dan Abby yang sering meminta uang kepada suaminya ini membuat hubungan keduanya tidak harmonis. 

Sampai akhirnya pada 4 Agustus 1892 terjadi peristiwa itu. Saat itu di rumah hanya ada Abby, seorang pembantu bernama Bridget Sullivan, saudara istri pertama Andrew bernama John Vinnicum Morse, dan Lizzie.

Andrew sedang tidak ada di rumah, dan disusul oleh John yang mengunjungi kerabatnya. Saat itu Bridget yang sedang pusing di kamarnya karena keracunan makanan, sementara Abby sedang mengepel lantai di kamar di lantai atas

Pukul 9.30, saat Abby sedang sendiri, tiba-tiba ia dipukul tepat di kepala dari belakang dengan pukulan mematikan. Pukulan berlanjut sampai 18 kali dan ditinggalkan dalam genangan darahnya sendiri.

Pukul 10.45, Andrew pulang dan mendapati pintu terkunci dan digembok. Bridget segera membukakan pintu. Namun Bridget mendengar suara tawa yang berasal dari Lizzie yang baru turun dari lantai dua dengan tersenyum.

Andrew yang lelah ingin beristirahat duduk di ruang tamu dan kemudian tertidur. Sementara Bridget pergi ke kamarnya di lantai dua untu beristirahat. 

Namun beberapa saat kemudian, Bridget mendengar suara teriakan Lizzie yang menggatakan bahwa ayahnya, Andrew Borden telah tewas karena ada seseorang telah membunuhnya. Bridget pun turun melihat Andrew telah meninggal dan langsung memanggil dokter. Lizzie terlihat menangis dan kemudian menarik perhatian tetangga.

Seorang dokter datang memeriksa mayat Andrew. Saat pemeriksaan tersebut, terdengar suara Bridget dari lantai dua yang juga menemukan mayat Abby.

(ki-ka) Kondisi mayat Andrew J. Borden dan Abby.
(ki-ka) Kondisi mayat Andrew J. Borden dan Abby. (Wikipedia)

Polisi pun datang dan melakukan pemeriksaan. Berdasarkan penyelidikan, polisi merasakan kejanggalan, khususnya fakta bahwa pelaku membunuh Abby terdahulu baru Andrew. Mereka pun menetapkan bahwa kemungkinan pembunuhnya orang dalam. Menurut polisi mana mungkin ada orang luar yang bisa membunuh kedua penghuni rumah di lantai yang berbeda sementara ada Bridget dan Lizzie berkeliaran. 

Satu-satunya yang mencurigakan adalah Lizzie. Karena yang lain memiliki alibi, seperti Bridget dan John. Namun polisi tidak menemukan bukti kuat selain motif bahwa Lizzie memiliki masalah dengan orang tuanya. 

Sementara sebuah kapak yang sudah dibersihkan ditemukan di lantai bawah tanah. Namun karena saat itu tidak ada teknologi canggih dan pemeriksaan sidik jari belum ada, polisi tidak memiliki bukti kuat untuk mencari bekas darah atau sidik jari.

Lizzie pun ditangkap meski tidak memiliki bukti yang kuat. Kekuatan Lizzie saat itu adalah diam tak mengeluarkan pernyataan apalagi pengakuan. Namun, semua surat kabar memojokkannya sehingga muncul para haters dari sosok Lizzie. 

Karena berita memojokkan itulah, Lizzie mendapat dukungan dan simpati. Apalagi ia dikenal di komunitas gereja. Sampai seorang pengacara terkenal George Robinson bersedia menjadi pembelanya. 

Persidangan pun berlangsung. Semua jasa penuntut meyakini Lizzie pelakunya. Namun semua itu dibantah dengan analasis dan logika yang kuat dari pengacara karena kurang bukti. Sidang itu berakhir dramatis dengan dibebaskannya Lizzie. 

Lizzie pun menjadi kaya raya dengan uang warisan ayahnya sampai akhirnya meninggal di usia 67 dan dimakamkan. 

Beberapa peneliti jaman sekarang mendalami karakter Lizzie semasa hidup. Mereka berkesimpulan Lizzie memiliki penyakit epilepsi yang akan bertindak aneh saat penyakit itu kambuh. Ia pernah juga mengacak-ngacak kamar dan terlihat seperti perampokan saat kambuh. 

Hal itu yang juga menjadi acuan para peneliti mengatakan kemungkinan penyakit itu muncul pada 4 Agustus 1892 silam saat ia membantai kedua orang tuanya. Alsan lain tentu ada motifnya, ayah yang pemarah dan ibu tiri yang merongrong kekayaan ayahnya.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
M Fadli
M Fadli

M Fadli

Writer

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU