The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Studi Soroti Peran Sosial Media pada COVID-19
Ilustrasi sosial media. (photo/Ilustrasi/Pexels/Pixabay)
Fakta Dan Mitos

Studi Soroti Peran Sosial Media pada COVID-19

Kamis, 10 Juni 2021 15:21 WIB 10 Juni 2021, 15:21 WIB

INDOZONE.ID - Peneliti dari York University dan University of British Columbia telah menemukan penggunaan sosial media menjadi salah satu faktor yang terkait dengan penyebaran COVID-19 dalam puluhan negara selama tahap awal pandemi. 

Peneliti mengatakan temuan ini menyerupai contoh lain dari misinformasi media sosial mulai dari fase awal peluncuran vaksin hingga kerusuhan Capitol 2021 di Amerika Serikat. Negara dengan penggunaan medoia sosial yang tinggi mengarah pada tindakan politik off-line sebelum pandemi, seperti yang disurvei sebelum pandemi oleh V-Dem, menunjukkan tren terkuat menuju R0 tinggi. 

Misalnya, Kanada jika dibandingkan dnegan Amerika Serikat miliki tingkat penggunaan media sosial yang lebih rendah & mengarah ke tindakan offline dan R0 yan lebih rendah. Serangkaian faktor ganda, termasuk dengan media sosial, dapat menjelaskan hasil yang berada antara kedua negara, meskipun temuan itu tidaklah menyiratkan sebab-akibat. Melihat hal itu, peneliti studi ini yaitu Jude Kong memberikan komentarnya.

"Apa yang kami temukan mengejutkan, bahwa penggunaan media sosial untuk mengatur aksi offline cenderung dikaitkan dengan tingkat penyebaran COVID-19 yang lebih tinggi. Ini menyoroti perlunya mempertimbangkan peran dinamis yang dimainkan media sosial dalam epidemi," ungkap Jude Kong.

"Dunia telah berubah untuk memodifikasi R0. Media sosial, misalnya, dapat membantu daripada menyakiti sekarang karena kita memiliki informasi yang lebih andal untuk disebarkan. Tetapi beberapa faktor yang diidentifikasi dalam penelitian kami tidak berubah dan dapat menjadi informasi untuk pandemi saat ini dan masa depan." ungkap Edward Tekawa. 

Kong dan Tekwa menemukan sebuah negara dengan jumlah pemuda menengah, faktor ketidaksetaraan GINI menengah, dan populasi yang terutama tinggal di kota-kota lebih dari satu juta orang merupakan faktor tambahan dengan hubungan tingkat penyebaran.

"Menariknya, kami menemukan bahwa dengan meningkatnya populasi kaum muda, itu terkait dengan jumlah kasus yang lebih rendah, daripada jumlah yang lebih tinggi." jelasnya.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Fernando Sutanto

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US