The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Filosofi Lagu Gundul-Gundul Pacul Gembelengan yang Ternyata Sindiran untuk Pemimpin
Cuplikan lagu gundul. (YouTube/Solite Kids)
Fakta Dan Mitos

Filosofi Lagu Gundul-Gundul Pacul Gembelengan yang Ternyata Sindiran untuk Pemimpin

Jumat, 20 Mei 2022 00:00 WIB 20 Mei 2022, 00:00 WIB

INDOZONE.ID - Gundul-gundul pacul, gembelengan merupakan sebuah lagu anak-anak yang berbahasa Jawa yang berasal dari Jawa Tengah. Lagu ini sangat populer terutama di kalangan anak tahun 90-an ke bawah. Sebab, liriknya dianggap 'lucu' dan mudah diingat.

Dikutip dari situs Pemprov Daerah istimewa Yogyakarta (DIY), gundul-gundul pacul gembelengan ditulis oleh Sunan Kalijaga sekitar tahun 1.400 silam. Meski sering dinyanyikan oleh anak muda, namun tak banyak yang tahu makna dari gundul-gundul pacul ini.

Makna gundul dalam lirik lagu ini adalah seorang pemimpin yang tidak memiliki mahkotanya. Sementara itu, dari pacul sendiri singkatan dari papat kang ucul yang artinya mata, telinga, hidung dan mulut.

Baca juga: Tradisi Ekstrem Suku Naulu Maluku, Jadikan Kepala Manusia sebagai Mas Kawin

Nah, keempat indera tersebut harus dipergunakan untuk menampung keluh kesah rakyat. Artinya, pemimpin harus senantiasa berpihak pada rakyatnya.

Sedangkan lirik gembelengan memiliki makna sombong, congkak atau besar kepala. Maka, gundul-gundul pacul gembel memiliki makna; apabila empat indera tersebut lepas atau hilang, maka hilanglah mahkotanya alias pemimpin tersebut telah berubah menjadi congkak.

Sementara itu, nyunggi wakul memiliki makna membawa bakul alias tempat nasi di atas kepala. Adapun arti dari lirik tersebut yaitu banyaknya pemimpin yang lupa bahwa mereka sedang mengemban amanat.

Mengemban amanat diibaratkan seperti mengemban bakul di atas kepala. Wakul sendiri merupakan lambang kesejahteraan rakyatnya.

Kemudian untuk lirik wakul ngglimpang segane dadi sak latar sendiri menggambarkan seorang pemimpin yang bersikap semena-mena. Wakul ngglimpang artinya adalah jatuhnya bakul di atas kepala.

Sedangkan segane dadi sak latar artinya adalah nasi yang jatuh dan berserakan. Nah, pada lirik ini pemimpin yang disindir diibaratkan seperti nasi dalam bakul yang jatuh berserakan. Berantakan dan tidak bisa dimakan kembali.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
M Fadli
Dina
M Fadli

M Fadli

Editor
Dina

Dina

Writer
JOIN US
JOIN US