The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Gunung Everest 'Menyusut' karena Tekanan Udara Menurut Studi
Gunung Everest. (Pixabay/Eknbg)
Fakta Dan Mitos

Gunung Everest 'Menyusut' karena Tekanan Udara Menurut Studi

Senin, 28 Desember 2020 08:49 WIB 28 Desember 2020, 08:49 WIB

INDOZONE.ID - Meski dikenal sebagai gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest dalam sebuah cerita yang dilaporkan blog berita American Geophysical Union, Eos rasanya seperti gunung tertinggi kedua. 

Itu karena tekanan udara gunung berfluktuasi secara signifikan sepanjang tahun. 

Gunung kedua di dunia sendiri adalah gunung K2 yang berada di perbatasan antara Pakistan dan Tiongkok. 

Dalam laman livescience, sebuah studi baru-baru ini menemukan adanya penyebab "ketinggian yang dirasakan" di puncak Everest sesekali turun di bawah saingannya gunung K2. 

Gunung Everest menyusut karena tekanan udara
Gunung Everest. (Pixabay/Crazy777)

Baca Juga: The Diamond Sutra, Kitab Tertua yang Mencantumkan Tanggal di Dalamnya

Tom Matthews, Ilmuwan iklim di Universitas Loughborough di Inggris mengatakan terkadang gunung K2 lebih tinggi dari Everest. 

Dalam studi baru yang diterbitkan 18 Desember di jurnal iScience, Matthews dan rekan-rekannya mengamati lebih dari 40 tahun data tekanan udara di dekat puncak Gunung Everest.

Tekanan udara terkait erat dengan ketersediaan oksigen di Everest. Ketika tekanan udara menurun, ada lebih sedikit molekul oksigen di udara yang membuat tindakan sederhana seperti bernafas jauh lebih berat. 

Tekanan udara yang menurun juga berfluktuasi dengan cuaca. Dari tahun 1979 hingga 2019, tekanan udara di puncak Everest berkisar antara 309 hingga 343 hektopascal. 

Ini adalah jumlah yang mirip dengan sepertiga tekanan di permukaan laut. 

Dengan kata lain, terkadang ketersediaan oksigen di Everest membuat gunung terasa ribuan kaki lebih pendek dari yang sebenarnya.

Sehingga terkadang, gunung Everest dengan tinggi 29.000 kaki (8.800 m) terasa lebih pendek bagi tubuh kita daripada gunung tertinggi kedua, K2, yang tingginya 28.250 kaki (8.600 m).

Para peneliti juga menemukan bahwa tekanan udara di Everest secara konsisten tertinggi di musim panas. Hal ini menjadikannya musim terbaik untuk mendaki gunung hanya berdasarkan ketersediaan oksigen. 

Artikel Menarik Lainnya:


TAG
Zal
Reka
Zal

Zal

Editor
Reka

Reka

Writer
TERKAIT DENGAN INI

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US