The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Mengulik Harta VOC, Perusahaan Penjajah Indonesia yang Lebih Kaya dari Apple hingga FB
Perusahaan kongsi dagang Belanda, VOC (Istimewa)
Fakta Dan Mitos

Mengulik Harta VOC, Perusahaan Penjajah Indonesia yang Lebih Kaya dari Apple hingga FB

Senin, 27 September 2021 18:48 WIB 27 September 2021, 18:48 WIB

INDOZONE.ID - Menurutmu, apa perusahaan paling kaya yang pernah ada di dunia ini? Microsoft? Facebook? Google? Salah!

Jawabannya adalah VOC atau Vereenigde Oost-Indische Compagnie alias perusahaan Hindia Timur Belanda. Perusahaan yang dulu menjajah Nusantara ini jika dihitung berdasarkan kurs sekarang, kekayaannya mencapai US$ 7,9 triliun atau sekitar Rp115 ribu triliun (Rp115 kuadriliun).

Perusahaan kongsi dagang Belanda ini melakukan sejumlah praktek monopoli perdagangan ini bahkan memiliki penghasilan yang mengalahkan PDB Jepang di era modern, senilai US$4,8 triliun.

Butuh gabungan penghasilan 20 perusahaan terbesar di dunia modern seperti Apple, Microsoft, Amazon, Tencent, dll, untuk bisa menyaingi kekayaan VOC yang mencapai US$7,9 triliun.

Contohnya Apple yang sekarang setiap produknya menjadi buruan banyak orang. Kekayaan Apple hanya seujung kuku VOC, haitu sekitar 11%.

Padahal, VOC hadir lebih dari 400 tahun yang lalu dengan 70 ribu karyawan. VOC merupakan perusahaan gabungan yang didirikan tahun 1602.

VOC lebih kaya dari 20 perusahaan modern
VOC lebih kaya dari 20 perusahaan modern (visualcapitalist)

Pemerintah Belanda memberikan hak kepada VOC untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di Asia, terutama Indonesia, selama 21 tahun.

Sejumlah keistimewaan ini membuat VOC bisa memiliki barang-barang eksotis, membangun koloni, memiliki tentara sendiri, memiliki mata uang sendiri, bahkan memulai perang.

VOC juga mampu mengirimkan satu juta pelayar ke seluruh Asia. Meski ada risiko meninggal karena dihantam badai, atau terkena penyakit menular, peluang untuk menjadi kaya di daerah baru begitu menjanjikan.

VOC juga menjadi perusahaan resmi pertama yang menerbitkan saham. Hal ini membuat valuasi VOC terdongkrak hingga 78 juta gulden.

Selama 200 tahun beroperasi, VOC mencapai puncak kejayaan di tahun 1637 saat masa "Tulip Mania" di Belanda.

Namun, kekayaan VOC dan Belanda mendatangkan kemelaratan bagi banyak orang. VOC melakukan apa saja demi memastikan bisnisnya berjalan lancar dan aset-asetnya terlindungi maksimal.

Hal itu termasuk penindasan, jual-beli budak, dan sejumlah tindakan buruk lainnya. VOC diperkirakan mengirimkan 50 ribu orang dari Afrika untuk menjadi budak di daerah koloninya.

Indonesia sebagai salah satu korban VOC tentu merasakan betapa menyakitkan menjadi "sapi perah" bagi perusahaan ini. Namun, pada akhirnya VOC bangkrut di tahun 1799 setelah hampir 2 abad beroperasi.

Salah satu alasan VOC bangkrut adalah karena korupsi dan suap yang merajalela. Pengurus VOC tak lagi berpikir untuk berbisnis, melainkan memperkaya diri sendiri dan mempererat hubungan dengan pemerintah Belanda.

Misalnya, Gubernur Jenderal Van Hoorn yang memiliki harta hingga 10 juta gulden, padahal gajinya hanya 700 gulden per bulan.

Sejumlah pejabat VOC juga mulai gila hormat. Alhasil, kas VOC merosot tajam diiringi dengan beban utang yang terus menumpuk. VOC pun dibubarkan dan segala aset VOC diambil alih oleh Belanda.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Zega
Zega

Zega

Editor
JOIN US
JOIN US