The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Menyigi Perihal Poliandri yang Dilakukan Wanita di Cianjur, Tak seperti di Tempat Lain
Penggusuran wanita Cianjur yang melakukan Poliandri. (Instagram/@say.viideo)
Fakta Dan Mitos

Menyigi Perihal Poliandri yang Dilakukan Wanita di Cianjur, Tak seperti di Tempat Lain

Selasa, 17 Mei 2022 12:11 WIB 17 Mei 2022, 12:11 WIB

INDOZONE.ID - Jagat maya masih dihebohkan dengan kasus wanita di Cianjur, Jawa Barat yang melakukan poliandri. Belakangan ini, fakta baru mengenai wanita tersebut pun mulai terbongkar.

Saat diunggah oleh akun @say.viideo, ternyata wanita tersebut melakukan praktik poliandri secara diam-diam. Akibat perbuatannya tersebut pun ia harus menerima perlakuan yang tidak mengenakkan oleh warga sekitar.

Dalam unggahan akun tersebut, dituliskan bahwa wanita yang berinisial NN tersebut melakukan pernikahan keduanya dengan seorang pria lain dilakukan tanpa sepengatahuan suami sahnya, TS.

Baca Juga: Wanita Bersuami 2 di Cianjur Diusir, di Tempat Ini Wanita Boleh Poliandri, Bahkan 3 Suami!

Hal ini diterangkan langsung oleh tokoh masyarakat yang memergoki perbuatan NN dengan menikah lagi dengan UA, suami keduanya.

"Pernikahan siri NN dengan UA dilakukan tanpa sepengetahuan dari suaminya, padahal antara dirinya dengan TS masih terikat dalam sebuah perkawinan yang sah," ujar Aep Ibing, tokoh masyarakat Desa Tanjungsari, Cianjur, Jawa Barat.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by fakta berita & hiburan (@say.viideo)

Poliandri di Dunia

Bagi tradisi beberapa suku di dunia, wanita justru boleh memiliki suami lebih dari satu dan bahkan suami-suami tersebut juga bisa saja berasal dari orang terdekat suami pertamanya.

Dalam budaya suku Toda, misalnya, setiap wanita yang ingin menikah harus bersiap juga menikahi saudara dari suami yang ingin dinikahinya. Wanita tersebut semula akan menikahi anak pertama, lalu berikutnya menikahi seluruh saudara laki-laki dari suaminya dalam beberapa waktu yang berbeda.

Selain itu, ada juga Suku Mosuo di wilayah Pegunungan Himalaya yang menerapkan praktik poliandri, dengan prinsip matrelineal. Dahulu kala, para pria dari suku tersebut dulunya mengalami kemiskinan yang menyebabkan mereka harus menjadi pengemis di malam hari memohon kebaikan wanita untuk memberi mereka makan.

Dari sanalah, para pria menawarkan jika mereka siap menjadi suami kedua atau seterusnya asal mereka mampu mendapatkan hidup dari wanita tersebut. Disinilah para wanita berhak memilih apakah ia akan menerima pria tersebut atau tidak.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Abul Muamar
Abdul Fattah

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US