The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Tak Cuma Pattimura, Viral Biksu Tong Sam Chong Disebut Ulama Muslim, Begini Penjelasannya
Kolase gambar Kapitan Pattimura dan biksu Tong Sam Cong. (Istimewa)
Fakta Dan Mitos

Tak Cuma Pattimura, Viral Biksu Tong Sam Chong Disebut Ulama Muslim, Begini Penjelasannya

Rabu, 06 Juli 2022 12:23 WIB 06 Juli 2022, 12:23 WIB

INDOZONE.ID - Dalam beberapa hari terakhir, publik ramai membicarakan soal isi ceramah Ustaz Adi Hidayat (UAH) yang menyebut kalau nama asli dari pahlawan nasional Indonesia Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura adalah Ahmad Lussy.

Tak cuma itu, UAH juga menyebut kalau Matulessy, yang lahir pada 8 June 1783, menganut agama Islam.

UAS berpendapat kalau nama Ahmad Lussy diubah oleh Belanda karena tidak suka dengan nama Islamis. Pendapat UAH itu berangkat dari pengubahan nama Ibn Sina menjadi Avicena dan Ibn Rush menjadi Averos dalam versi Barat.

Tak cukup sampai di situ, UAS juga berspekulasi bahwa Pattimura menempuh pendidikan di pesantren dan sangat taat dalam menjalankan ibadah Islam.

Biksu Tong Sam Cong Ulama Muslim?

Menyusul Pattimura, dan sebelumnya juga Gadjah Mada yang dianggap muslim dan dianggap bernama Gaj Ahmada, kini viral informasi berupa tulisan di sebuah blog yang menyebut kalau biksu Tong Sam Cong dalam kisah Sun Go Kong adalah seorang ulama muslim.

Blog tersebut menyertakan gambar biksu Tong Sam Cong yang diperankan oleh Jiang Hua alias Kwong Wa, dan menyebut bahwa biksu tersebut bukan Buddha atau Siddhartha Gautama.

Si penulis blog tersebut menyebut bahwa minimal ada tiga argumen yang menguatkan pendapatnya. Tong Sam Chong yang ia sebut lahir di zaman Dinasti Tong (618-907 M).

"...sehingga sela bersusah payah selama 17 tahun mengembara untuk menjemput kitab suci di Barat setelah mendengar berita dari para pedagang jalur sutera (jalur perdagangan sutera telah berlangsung sebelum Masehi)," tulis si penulis.

ist
Tangkapan layar blog yang menyebut biksu Tong Sam Cong adalah muslim. (Istimewa)

Argumen pertama, wilayah Barat atau She Thien yang dimaksud adalah Arab, sedangkan India /Thien Tok dianggap Selatan dan perjalanan 17 tahun mencari kitab suci itu dari Timur (Propinsi Zhe Jiang) ke Barat lewat Ta Li Muk Phen Ti/Se Chou Ce Lu/Jalur Sutera (Xin Jiang di wilayah Barat daratan Cina). 

"Perjalanan ini dilakukan setelah pemuda alim tersebut mendapatkan kabar berita dari para pedagang lintas benua/para pedagang jalur sutera membawa berita bahwa di Barat sama telah atau baru turun kitab suci, maka berangkatlah beliau dari tanah kelahirannya, Propinsi Zhe Jiang (Cina bagian Timur) menuju Barat (tanah Arab). Lewat Gansu lalu ke Xin Jiang, disitu ada Fo Yen San/Flamming Mountain/gunung api bagian Barat Cina, yang kita ketahui bersama bahwa 99,99% penduduk Propinsi Xin Jiang (sekarang) beragama Islam," tulis penjelasan dalam blog tersebut.

Kedua, jarak Ulama Tong (abad ke 7 M) dan Siddharta Gautama (5 abad SM atau kurang lebih 1200 tahun) jadi tidak bisa dikatakan baru lagi sebab sudah lebih dari seribu tahun.

Ketiga, ajaran Gautama sudah masuk ke daratan Cina sebelum Tat Mo Co Su/Bodhi Dharma/Zen yang juga dari India, bukti Tat Mo Co Su ada di kuil Shaolin gunung Shiong San Propinsi Henan. 

"Berarti jalur Cina – India sudah ada sebelum perjalanan Tong, yaitu dari arah Selatan negeri Cina. Jadi untuk apa memutar begitu jauh lewat Utara baru ke Selatan sedangkan alat transportasi dahulu hanya unta, kuda atau keledai," lanjut penjelasan dalam blog tersebut.

Berikut nukilan selanjutnya dari tulisan di blog tersebut, yang merupakan hoaks.

Apakah Tong begitu bodoh?

Saya tidak percaya itu.

Adapun hari ini kita membaca atau menonton kisah Kera Sakti pada perjalanan Tong Sam Cong itu hanyalah kisah fiktif yang disuguhkan oleh penulis yang bertujuan untuk menentang atau menyindir pemerintahan bangsa Mancuria pada saat itu yang sedang memerintah Cina.

Jadi pada cerita Kera Sakti ada monyet, babi dan kerbau itu sebenarnya tidak ada sama sekali/bohong besar dan ingat, di Jepang cerita ini menjadi Son Goku atau Dragon Ball. Sekarang malah cerita Kera Sakti di ceritakan di Amerika. Ingat, salah satu cara/bentuk penjajahan kebudayaan atau sejarah adalah lewat cerita/komik.

Seperti Sisingamangaraja XII dan Pattimura yang beragama Islam/muslim tapi selalu di gembar-gemborkan bukan muslim, demikian juga dengan perlawanan Wong Fei Hung yang muslim dkk melawan penindasan Mancuria pada bangsa Han di Cina, ini bisa terjadi juga karena kesalahan kita umat muslim yang tidak peduli dengan saudaranya yang lain. Ini disebabkan pendapat yang salah antara suku dan agama (Assobiah dan Tauhid).

Di akhir cerita Kera Sakti, tidak diceritakan kitab apa yang diambil atau di peroleh, sebab kalau produser mau menceritakan sejarah yang sebenarnya bahwa kitab yang mereka cari adalah Alquran, maka akan bubarlah keyakinan non Islam dari agamanya yang sekarang dan cerita/film tersebut tidak akan lalu terjual sehingga produser film tidak akan dapat memperoleh keuntungan alias rugi.

Sebab umumnya orang Han/orang keturunan Cina tidak akan tertarik menontonnya karena tidak sesuai dengan kepercayaannya dan umat Islam pun belum tentu akan tertarik menontonya karena masih ada masalah kesukuan/assobiah sebab datang dari daerah Timur/Cina bukan dari Barat/Arab serta masalah ilmu Tauhidologi.

Artikel Menarik Lainnya:

TAG
Abul Muamar
Abul Muamar

Abul Muamar

Editor

ARTIKEL LAINNYA

LOAD MORE

You have reached the end of the list. Want More? #KAMUHARUSTAU

JOIN US
JOIN US