INDOZONE.ID - Kekejaman anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) telah meninggalkan trauma mendalam bagi Bangsa Indonesia.
PKI telah membuat pertumpahan darah dan menyisakan rasa ngeri bagi banyak orang. Salah satunya taruma yang dialami RA Kardinah adik RA Kartini.
Diceritakan dalam Anab Afifi dan Thowaf Zuharon dalam buku Ayat-ayat yang Disembelih (2015), pakaian Kardiah pernah dilucuti dan diganti karung goni.
Saat itu Kardiah ikut menjadi buronan PKI karena menjadi mertua dari Bupati Tegal, Soenarjo (Sunaryo).
PKI memandang bupati sebagai simbol feodalisme atau pemegang tampuk yang berkuasa di Tegal.
Hal inilah yang melandasi orang-orang PKI untuk mengincar dan membunuh Soenarjo.
Dikisahkan pada 13 Oktober 1945, segerombolan anggota PKI masuk dan mengobrak-abrik rumah Soenarjo.
Baca juga: 7 Kronologi Pemberontakan G30S/PKI, Dipicu Persaingan Politik Berujung Pembantaian Jendral
Soenarjo yang kala itu sedang tidak ada di rumah membuat PKI kesal hingga merobek-robek seragam dinasnya yang dianggap simbol feodalisme.
Tak hanya itu, kemarahan PKI juga dilampiaskan kepada Kardinah, cucu perempuan, dan pembantu Soenarjo yang kemudian ditangkap.

Semua pakaian mereka dilucuti oleh PKI yang tengah murka, kemudian digantikan dengan pakaian dari goni.
Setelah dipakaikan goni, mereka kemudian diarak keliling Kota, agar jadi tontonan dan bahan olok-olokan massa.
Baca juga: 10 Pahlawan Revolusi yang Gugur dalam G30S/PKI
Akibat kejadian itu, Kardinah pun mengalami pukulan dan trauma terhadap tindak PKI yang telah mempermalukannya.
Namun beruntungnya, RA Kardinah tak dijadikan korban penyiksaan dan pembunuhan PKI.
Selepasnya, dia segera meninggalkan Tegal dalam upaya melupakan kisah traumatik yang menimpanya di sana. Dia menghabiskan masa tuanya di Salatiga dan meninggal dunia pada 5 Juli 1971 di usianya ke-90.