The Most Engaging Media For Millennials and GEN Z

Sejarah Panjang Topi Putih Tinggi Para Chef
Ilustrasi topi putih koki. (Flickr/Julie Zoney)
Fakta Dan Mitos

Sejarah Panjang Topi Putih Tinggi Para Chef

Kamis, 31 Desember 2020 13:00 WIB 31 Desember 2020, 13:00 WIB

INDOZONE.ID - Ketika mendengar kata "chef", gambaran tertentu muncul di benak kita.

Kebanyakan cenderung membayangkan koki sebagai orang yang tampak serius memegang pisau atau sendok kayu, mengenakan mantel serba putih. 

Di samping semua variabel itu, citra seorang koki hampir selalu mencakup satu hal ikonik yaitu topi putih yang tinggi. 

Ternyata topi putih ikonik chef ini punya sejarah yang panjang. 

Meski tidak bersifat wajib, namun topi yang dikenakan koki dapat berfungsi sebagai pernyataan status, mode, atau tradisi.

Asal muasal topi ini memiliki beberapa sumber cerita. Seperti sebuah kisah yang mengatakan bahwa dahulu Raja Henry VIII memenggal kepala seorang koki setelah menemukan rambut di makanannya.

Sejarah topi putih chef, topi putih tinggi koki
Ilustrai para chef yang menggunakan topi putih. (Flickr/UMass Dining)

Koki berikutnya diperintahkan untuk memakai topi saat memasak, dan dengan begitu apra koki mulai menggunakan topi untuk menjaga kebersihan.

Namun, beberapa sumber lain menyebutkan bahwa pada awal abad ke-7 M, topi dipakai oleh koki untuk menandakan status. 

Secara khusus, mereka diberi topi untuk menebus penganiayaan yang mereka rasakan, karena ini adalah saat di mana koki tampaknya secara teratur meracuni raja yang mencemooh mereka.

Entah kedua kisah itu benar atau tidak namun yang pasti aksesori ini sekarang menjadi alat maupun simbol yang dikenakan para koki. 

Sementara itu, warna putih secara umum dianggap sebagai warna terbaik untuk koki karena melambangkan kebersihan dapur.

Tabarnya topi itu sendiri bisa digunakan untuk melambangkan kehebatan sang chef. 

Dilansir dari Escoffier, secara tradisional, topi koki memiliki 100 lipatan, melambangkan 100 cara berbeda untuk memasak telur.

Saat ini, mungkin sebenarnya tidak ada 100 lipatan di topi koki, tetapi simbolismenya masih berlaku. 

Aspek lain dari topi yang dapat menjadi simbolis misalnya, di beberapa dapur, koki dengan pangkat tertinggi memiliki topi tertinggi. Gaya topi yang berbeda juga dapat digunakan untuk membedakan peran mereka di dapur.

Artikel Menarik Lainnya:


TAG
Zal
Reka
Zal

Zal

Editor
Reka

Reka

Writer
JOIN US
JOIN US